
/1/
Bbbkk… bbbkkk… bbbkkk…bbbkkkk...
“Berhenti berhenti berhenti!!!!”
Aku terperanjat. Seorang lelaki paruh baya tiba-tiba berteriak sambil memukul-mukul badan bis yang sedang kunaiki. Teriakannya membuyarkan khayalanku yang tengah berjelajah ke negeri imaji.
“Wooiii, brengsek!! Turun Lo!!!”
“Turuuuuuun!!” serunya lagi.
Pekiknya tertuju pada seorang pemuda berkaos biru yang baru saja naik terengah-engah. Kusimak lelaki yang berteriak-teriak itu. Dia bertubuh tinggi. Dengan jins yang membalut kekar tubuhnya serta sedikit tato yang mengintip dari lengan kaos hitamnya, dia tampak tak begitu menyeramkan sebenarnya. Lelaki itu mematung di pintu depan metromini yang hendak berbalik arah. Berdiri tepat di dekatku yang duduk di depan pintu.
“Ma..af Bang... Saya cuma punya satu,” tukas pemuda berbaju biru dari dalam bis ketakutan.
“Halah. Brengsek Lo! Turun!!!”
Pemuda itu kian pucat.
“Buka!”
“Saya cuma punya satu...”
"Gue nggak peduli! Buka!!”
“Jangan, Bang. Ini punya saya.”
“Kagak ngerti bahasa gue Lo? Hah?”
“Ngerti Bang... tapi... Saya cuma punya satu Bang.”
“Gue nggak mau tahu. Buka!!”
“Tapi, Bang...”
Wajah pemuda berbaju biru itu bertambah tegang. Tubuhnya gemetar. Sementara lelaki di luar masih terus menggedor-gedor pintu. Kulihat pemuda yang ditujunya kian menciut. Mencari perlindungan di balik penumpang yang berdiri berhimpitan. Dia kian menyeruak ke jejalan penumpang bis. Berpuluh pasang mata memandangnya. Heran diliputi kekhawatiran. Tak ada yang berkutik. Masih dari luar bis, lelaki itu makin keras berseru.
“Brengsek Lo ya! Lo kagak mau buka tuh kaos??!” hardiknya lebih keras. “Gue matiin juga Lo!”
Para penumpang terbengong-bengong. Mereka semua terlihat ketakutan, termasuk aku. Tak berani berbuat sesuatu. Tak ada yang bersuara, kecuali suara mereka berdua yang beradu. Tegang. Seketika, suara tangis seorang bayi pecah. Suasana kian mendebarkan! Sebagian penumpang perempuan yang kebanyakan ibu-ibu lebih memilih turun diiringi kecemasan.
“Brengsek!!”
Lelaki bertubuh kekar itu naik pitam. Wajahnya merah. Napasnya naik turun. Beringasnya mulai terlihat. Dia pun menerobos masuk bis. Tangannya berusaha menggapai tubuh pemuda berbaju biru itu. Sekuat daya menyingkirkan penumpang yang mengahalangi niatnya.
“Woi woi woiii, apa-apaan sih ini?” Kenek metromini mencoba melerai.
Tak dihiraukan. Tangannya yang kekar terus berupaya menggapai pemuda tadi.
“Jangan berantem di sini dong!!” teriak salah seorang penumpang sambil menahan tubuhnya yang terus berontak.
“Diem Lo semua!!”
Tubuhnya masih meronta-ronta.
“Gue nggak ada urusan sama Lo!” bentak lelaki tu tak kalah emosi.
“Urusan gue cuma sama dia!” wajahnya menunjuk ke arah pemuda berbaju biru tadi.
Malang, tubuh sang pemuda mampu diraihnya.
“Bukkkkkkk... Buuukkkkk.” Dua tonjokan pun mampir di wajahnya. Dia terus memaksa pemuda itu untuk membuka kaos. Tanpa berpikir lagi, pemuda tadi bersedia menuruti kemauannya. Tak ingin peristiwa itu bertambah panas, para penumpang berpayah-payah mengeluarkan lelaki itu.
“Jalan Bang jalaaan... Jalaaan....” serempak para penumpang teriak saat mereka berhasil mengeluarkan pembuat onar dari kendaraan yang mereka tumpangi.
Dan mobil pun melesat meninggalkan lelaki bertubuh kekar itu.
/2/
Lelaki berkaos biru itu masih terlihat gugup. Dia terlihat shok. Tubuhnya lemas. Dipersilakan dia duduk oleh seorang bapak-bapak yang terenyuh. Kaos yang berada di tangannya digenggamnya erat-erat. Sesekali dilekatkan ke bagian wajahnya yang lebam. Tubuhnya gemetar. Mukanya meringis menahan sakit. Ada sedikit darah mengalir dari ujung bibirnya.
“Kenapa sih sampe begini? Ada urusan apa lo sama dia?” tanya seorang lelaki penasaran.
“Iya, sampe ditonjok gitu. Abis ngapain emangnya?” sambar ibu-ibu yang duduk di belakangku. Sepertinya, hanya aku dan dia perempuan yang tak turun saat peristiwa itu terjadi.
Pemuda itu bergeming. Mengacuhkan rasa penasaran penumpang. Mungkin sedang menenangkan diri, batinku membaca kondisinya. Dia terlihat sangat terpukul.
“I..ni Bang...” timpalnya pelan. “Gara-ga..ra ini...” Tangan kanannya yang memegang kaus diangkat.
“Hah, kaos? Lo abis nyuri kaos?” tanya penumpang lain curiga.
“Iya, jangan-jangan Lo abis maling lagi,” celetuk yang lain.
“Nggak Mas... I..ni gara-gara saya pake kaus biru, punya kelompok sepak bola lain!”
“Ya ampuuun...” seru mereka serempak tak percaya. Beberapa orang terlihat menggelengkan kepala.
“Dia dari Jakarta?” kali ini seorang bapak bertanya.
Pemuda itu mengangguk.
Dan para penumpang pun riuh dengan jawaban pemuda tadi. Sementara aku, berdiskusi sendiri dengan pikiranku yang berusaha keras memahami peristiwa tadi. Hanya gara-gara orang lain pake kaus bola kebanggaannya emosi mudah sekali tersulut?? Bukankah setiap orang punya hak untuk mengidolakan siapa pun? Tak kenal RAS atau negara. Tak pandang dia lelaki atau perempuan. Marilah hargai perbedaan. Mengapa kita harus memaksakan kehendak? Bagaimana pun kita tetap bersaudara, bukan? Ah, aku masih tak paham.
Dan bis yang kutumpangi pun terus melesat di keramaian ruas-ruas ibu kota. Melaju meninggalkan sekeping peristiwa di senja yang jingga.

“Tak ada yang akan memperbaiki kehidupanmu jika kau tak mau dan tak mampu memperbaikinya sendiri.” (Bertolt Brecht)
Malam merambat gelap. Aku masih berjalan gontai menyusuri gang-gang sempit dan kotor. Di sepanjang gang ini berdiri kumuh pemukiman warga pendatang dari penjuru nusantara. Tapi kebanyakan, yang kutahu dari wilayah Jawa.
Dengan tubuh lemas, aku melangkah setapak demi setapak. Tak kutemui seorang pun di lorong ini. Kecuali di mulut gang tadi. Ya, di sana ada warung kopi milik Mak Yoyon. Warung itu tak pernah sepi. Meski hanya menjajakan kopi susu, teh hangat, dan mie rebus. Banyak bapak-bapak, om-om, juga pemuda yang tidak jelas pekerjaannya berkumpul di sana. Yang selalu kulihat, mereka sering main kartu, tertawa-tawa, dan menggoda para gadis yang masih sudi lewat gang busuk ini. Tidak pagi, sore, malam atau subuh. Kartulah yang selalu mereka pegang, juga makanan barang kali, tidak lain!
Dinginnya angin malam yang menari-nari semakin menusuk-nusuk kulitku. Setelah seharian mengamen, menjual koran, dan menyemir, aku belum juga ditikam kantuk. Katup mata ini sepertinya masih ingin melihat busuknya kondisi yang kualami. Langkahku masih terus menapaki ruas gang becek yang bercampur sampah-sampah basah. Sisa-sisa nasi yang berhamburan di sana-sini tak kalah meramaikan pemandangan rusak ini.
Semakin dalam aku memasuki gang sempit itu, semakin menyengat bau busuk yang menyiksa hidungku. Bau bacin, sampah yang berhamburan, dan tanah basah bercampur lumpur menciptakan aroma ‘wangi’ ala gang sempit dan kotor ini! Bau sudah merebak di setiap sudut-sudut kecil gang. Tak ada yang lolos untuk tidak menciumnya! Sama sekali!
Di depanku, tong-tong besar yang digunakan untuk menampung sampah tak lagi berdiri gagah di tempatnya. Ia sudah tergeletak di tengah jalan. Rupanya dari sanalah sebagian bau busuk itu berasal. Entah siapa yang membuatnya tumbang. Isinya terburai tak keruan. Tak ada yang peduli dengan semua itu, termasuk aku!
Aku terus melangkah. Kulihat sekelompok tikus berkejar-kejaran senang. Berlari ke sana ke mari di depanku mengintai makanan. Ada juga teman-teman mereka sepermainan: kecoa dan lalat yang sibuk berterbangan. Mungkinkah mereka sekeluarga? Jika iya, iri aku dibuatnya. Mereka terlihat kompak dan bahagia.
Belum lagi tanah cokelat yang lengket ini, huuh, membuatku harus bekerja ekstra karena tanah-tanah itu menempel di bawah sandal jepitku! Ditambah lubang-lubang besar yang sudah pasti menampung air jika turun hujan. Tentulah menyempurnakan busuknya tempat ini!! Kalian bisa bayangkan sendiri, bukan?
Jangan aneh, Kawan. Pemandangan itu sudah jadi santapanku tiap waktu. Ya, karena di tempat inilah aku bermukim. Di sana, di ujung gang ini yang terkenal bau busuk dan kotor! Sudah hampir setahun aku tinggal di sini.
Bagaimana lagi? Hanya tempat inilah tempat aku tinggal bersama dua adikku yang masih kecil-kecil. Tak terbilang berapa kali kami tidur di pinggir jalan, di bawah jembatan, di depan pertokoan, terminal, dan di bawah langit mana saja yang masih berbaik hati memperbolehkan kami untuk tidur hingga akhirnya kami terdampar di sini: di pojok gang sempit dan busuk ini! Tak terbilang juga berapa banyak kami harus menerima caci maki, amukan, sampai pukulan dari para pemilik kios yang merasa terhina jika depan kiosnya kami tiduri.
♣♣♣
Sampai juga aku di depan rumah. Yah, beginilah, Kawan. Rumahku tak semewah rumah kalian, atau paling tidak rumah yang di dalamnya ada ruangan khusus untuk tamu, untuk makan, memasak, juga untuk tidur. Lihatlah, rumahku hanya terbuat dari tumpukan kardus yang hanya bisa digunakan untuk tiudr, meski harus meringkuk. Yang terpenting bisa melindungi kedua adikku, Laras dan Senyum! Ya, melindungi mereka dari sengatan panas dan hujan, juga orang-orang jahat.
Dinding rumahku terbuat dari kardus-kardus bekas. Kira-kira tingginya satu meter dua puluh lima senti. Kardus itu aku tempelkan pada dinding kayu rumah salah satu warga gang sempit ini juga yang berdiri di sisi kanan dan kiri. Untunglah, mereka msih berbaik hati pada kami.
Lalu atapnya? Sama saja. Semua terbuat dari kardus! Kecuali jika kami sedang mujur. Ya, beberapa bulan lalu, aku dan Laras pernah menemukan sepotong triplek usang yang masih bisa digunakan. Laras menyuruhku untuk mengambil triplek itu agar dijadikan atap rumah. Tapi, tetap saja. Namanya juga barang usang. Ia pun tak bertahan lama, hanya dua bulan.
Lalu sekarang? Jika hujan turun, aku dan kedua adikku sudah menyiapkan plastik yang kami rekatkan satu sama lain untuk melindungi kardus-kardus kami agar tidak kebasahan. Tentu saja plastik bekas, Kawan. Tapi, kami juga sering kewalahan. Tidak jarang, kardus kami kalah diterjang hujan lebat dan banjir karena luapan got di persimpangan lorong yang berada tidak jauh dari rumahku. Walhasil, aku dan kedua adikku mau tidak mau tidur lagi di emperan jalan.
Lebar rumahku hanya satu meter kali satu meter setengah. Tak layak disebut rumah memang. Tapi, aku harus tetap bersyukur. Paling tidak ini lebih baik dari sebelumnya.
♣♣♣
Kulongok kedua adikku, mereka sudah tidur. Aku pun masuk dan duduk di sisi mereka.
“Senyum, banguun... Udah makan belum?” tanyaku pelan sembari mengoyang-goyangkan tubuh mungilnya yang meringkuk. Senyum adalah adikku yang paling kecil. Usianya sekitar enam tahun.
“Ras, bangun... Ini Mas bawa makanan enak. Ayoo bangun, nanti tidur lagi,” ujarku membangunkan adikku yang satu lagi.
Tak lama, Laras, adikku yang kedua pun terbangun. Sementara Senyum masih terlelap dalam kedinginan yang beku.
“Kita udah makan, Mas,” jawab Laras pelan. “Tadi... Laras dapet uang dari nyemir sepatu sama jual koran,” sambungnya sambil mengucek-ngucek mata.
Aku tertegun mendengarkan.
“Mas jangan marah dulu ya,” sambarnya ketakutan sembari menunduk tak berani melawan tatapanku. “Maaf Mas, bukannya aku nggak nurut sama Mas. Senyum udah laper banget tadi, tapi Mas Tawa nggak pulang-pulang juga. Jadi kita makan duluan, maaf ya Mas.... kita... kita... nggak nunggu Mas,” sambungnya pelan.
Aku masih menatapnya lekat-lekat. Ah, adikku, mengapa nasib kalian seperti ini. Hatiku teriris-iris melihatnya. Oh, Tuhan, jika aku boleh meminta, biarlah aku saja yang bernasib buruk, jangan mereka. Betapa aku sangat menyayangi mereka, Tuhan. Kupeluk erat Larasku. Kucium kening adikku yang berusia sekitar delapan tahun itu. Penuh cinta.
“Mas nggak marah koq Ras.....,” jawabku lirih sembari tetap mendekapnya. “Kamu nggak perlu minta maaf, yah....” Dadaku sesak, Kawan. Sesak melihat semua ini. Air mata sudah hampir tumpah. Tapi, aku tak mau air itu tumpah di depan Laras. Tidak!
“Mas yang salah, Ras... Mas yang belum bisa bahagiain kalian... tapi Mas janji, kita....” suaraku terbata-bata menahan air yang memaksa keluar. “kita... nggak akan begini selamanya... Mas janji, Ras... Mas janjii... Sekarang kamu tidur lagi, yah...,” kukecup sekali lagi keningnya.
Juga kening Senyum, adik bungsuku. Tak lupa kuselimutkan mereka dengan sepotong baju milik almarhum Ibu. Ya, karena itulah satu-satunya harta yang bisa dijadikan selimut hati dan jiwa kami yang kerap kedinginan membeku. Ah Ibu, andai ibu ada di sini, setidaknya semua tak akan seberat ini, bu...
Aku tahu, ketakutan Laras. Bukan, bukan karena mereka tak menungguku saat makan, Kawan. Sungguh, bukan itu! Dulu--dulu sekali-- beberapa waktu setelah ibu pergi, aku memang pernah berpesan pada Laras agar tidak menggunakan hasil keringatnya untuk makan. Biar aku yang membiayai hidup mereka. Dengan begitu, hasil keringat Laras bisa ditabung untuk masa depannya, atau sesuatu yang mendesak. Meski aku sadar, aku belum tentu sanggup melakukan itu, Kawan....
♣♣♣
Langit makin gelap. Namun, awan hitam tidak berhasil menutup celah pendar rembulan untuk bersinar. Benar. Cahayanya tengah malam itu begitu memesona. Semburatnya menghujam mendung yang bergelayut di angkasa. Menciptakan lukisan malam yang menggetarkan jiwa. Bentuknya pun bulat sempurna. Sayang, kesempurnaannya berlawanan tajam dengan hatiku. Bentuk hati ini tak lagi sesempurna itu. Akhirnya, air yang sejak tadi tertahan di sudut mataku pun tumpah! Ya tumpah! Aku tak kuasa lagi menahannya. Dorongannya untuk keluar begitu deras. Hatiku gerimis, dan terjadilah rinai di tengah malam itu.
Aku tahu, tubuh ini letih. Tak ada selera lagi untukku menyantap makanan yang sebenarnya jarang kami dapatkan. Tapi, mataku belum juga ingin terpejam. Perutku juga tak lapar. Pikiranku melayang-layang.
Di dekat pintu rumah, aku mematung. Menatap kedua adikku yang amat kusayangi terlelap. Kupandangi terus Laras. Tubuhnya begitu kurus tak terawat. Rambutnya berantakan. Robekan di bajunya pun tak lagi dapat kuhitung. Oh Tuhan, beri aku kekuatan, rintihku dalam hati berdoa pada yang Mahakuasa. Dalam sekejap, bertubi-tubi bingkai kepiluan menyergapku. Dulu—dulu sekali, sebelum kepergian ibu-- Laras pernah hampir dijual oleh bapak. Ya hampir! Sedikit lagi, dia sudah berada di tangan laki-laki tua yang memang kerjaannya menjual manusia. Wajah Laras memang ayu. Hanya saja tidak terurus. Beruntung. Ibu sempat memergoki bapak dan mengagalkan niat busuk itu setelah mencium gelagat bapak yang sangat mencurigakan. Meski akhirnya, aku dan kedua adikku harus kehilangan ibu untuk selamanya. Ibu geger otak karena perlakuan bapak dari hari ke hari.
Laras, masih panjang jalan yang hendak kautempuh. Tetaplah tegar seperti Laras yang aku kenal saat ini, bisikku dalam hati. Aku berjanji akan membuat hidupmu tak lagi menderita. Aku berjanji Laras!!
Pandanganku beralih pada si bungsu. Senyum, ah, Senyum. Betapa indah namamu. Nama yang dulu ibu berikan untukmu, tepat sebelum beliau pergi meninggalkan kita.... Nasibmu juga tak kalah pilu dengan Laras, Mbamu. Mozaik keperihan pun silih berganti memenuhi benak dan pikiranku. Megaduk-ngaduk perasaan dan emosiku. Tak terasa, gerimis di hatiku makin lebat! Darahku mendidih. Mozaik-mozaik itu.... mereka tak henti-hentinya menyerbu pikiranku.
Tak berbeda dengan Laras dan aku. Senyum pun berulang kali mendapat perlakuan kasar dari bapak. Tiada hari tanpa air mata. Dia kerap dipukul, disiksa, dan dimarahi habis-habisan oleh bapak. Senyum dipaksa bapak mengemis seharian. Jika tak mendapatkan uang yang diinginkan, bapak pasti marah besar dan dia dijamin tak dapat makan. Sungguh, hatiku pilu membuka luka-luka itu!! Padahal, usianya masih lagi muda: empat tahun! Senyum hampir celaka dibuat bapak.
Selalu tersenyum aku saat menyebut namamu, memandangmu, juga berada di dekatmu. Semoga hari-harimu benar-benar terus tersenyum, bahagia... Tak ada lagi air mata keperihan menetes dari matamu. Karena itulah tujuan Ibu mengubah namamu.... Aku akan menjaga mereka, bu.... Seperti pesan terakhirmu di bulan purnama.... Aku berjanji.
"Tak semudah itu kemiskinan menundukkanku. Mengobrak-abrik hidup dan nasibku!"

SATU SETENGAH TAHUN k e m u d i a n........
“Selamat pagi... Ada yang bisa kami bantu?” sapa salah seorang resepsionis ramah.
“Pagi,” balas Fahry tak kalah ramah, “Saya sahabat Fardan, Head Marketing di sini, bisa saya bertemu beliau?” Belum dijawab, Fahry cepat-cepat berucap, “Sebentar, tolong jangan beri tahu dulu nama saya, ya. Saya ingin buat kejutan untuknya,” serunya sumringah sambil membetulkan kerah jas, kemeja dan dasinya yang sebenarnya tidak salah posisi.
Fahry adalah sahabat Fardan sejak SMP. Kedekatan mereka terjalin sejak Fardan, Fahry, juga Tasya, kekasih Fardan mewakili sekolah untuk mengikuti perlombaan Matematika tingkat provinsi. Fahry yang lebih dulu mencintai Tasya, harus merelakan gadis idamannya dimiliki oleh sahabatnya sendiri sebagai balas budi. Baginya, persahabatan tak bisa dirusak oleh cinta. Fahry harus mengalah!! Dia yang mengetahui Fardan juga jatuh hati pada Tasya, tidak lama setelah dirinya terpikat, membiarkan gadis pujaannya itu tak pernah termiliki olehnya. Terlebih, fisik dan status sosial mereka berdua lebih dari dirinya. Hingga kini, baik Fardan maupun Tasya tak pernah tahu jika Fahry,sahabat mereka pernah jatuh hati pada wanita yang memesona kedua sahabatnya.
Selain itu, Fardan telah banyak membantu Fahry saat keluarganya dihantam berbagai musibah. Mulai dari ibunya yang mengidap penyakit ginjal, yang terkadang mesti dirawat di rumah sakit dan membutuhkan biaya besar hingga biaya sekolah adik Fahry, Rizal. Meski terkadang tempramen, Fahry tipikal orang yang selalu membuat kejutan-kejutan manis, bahkan terkadang konyol. Dia pun perhatian pada orang lain, terutama Fardan, sahabatnya.
Pagi itu Fahry baru saja tiba dari Kalimantan mengurus bisnis terbaru. Terpikir olehnya untuk singgah sebentar di Jakarta melepas rindu bersama sang sahabat yang telah lama tak bersua: Fardan. Dia ingin menghabiskan waktu untuk berbagi kisah yang telah lama tak diberinya.
“Maksud Bapak, Bapak Rudi?” tanya salah seorang resepsionis mengagetkan.
“Bukan bukan. Bapak Fardan!!”
“Maaf, Pak, Head Marketing di sini bukan Bapak Fardan, melainkan Bapak Rudi. ”
“Rudi???!” air muka Fahry berubah heran. “Head Marketing lho, Mba!!”
“Iya Pak.”
“Rudi?? Coba tolong dicek lagi. Mungkin Anda ini salah lihat!!”
“Benar Pak, kami tidak mungkin salah.”
“Lalu Fardan? Apa dia pindah posisi? Pindah jadi manajer apa?”
“Maaf, Pak. Tidak ada manajer lain bernama Fardan.”
Fahry terus memburu resepsionis itu dengan peluru pertanyaan. Ditambah emosi yang sebentar-sebentar meluap-luap. “Sekali lagi saya tegaskan, saya ingin bertemu Fardan, bukan Rudi!! Ayo, beri tahu dia, atau tunjukkan pada saya ruangannya!!” Amuk Fahry yang mengetahui Fardan tak lagi menduduki posisi manajer.
Resepsionis itu pun terkesiap. Mematung melihat tamu lelaki di hadapannya dengan wajah merah padam bersikeras ingin bertemu Fardan!! Menghardik dan menggerundel! Lelaki berkemeja biru bergaris-garis lembut yang dibalut jas hitam itu bersikukuh bahwa Fardan bekerja di perusahaan tersebut. Dengan wajah garang, Fahry terus mendesak resepsionis untuk mengecek ulang orang yang hendak dia temui. Lagi dan lagi.
“Maaf Pak, tapi, Head Marketing di perusahaan kami benar bernama Bapak Rudi Setyawan Nugroho, bukan Fardan yang Bapak cari.”
Fahry masih belum percaya. Dia terus mencecar resepsionis perusahaan hingga mereka menjadi pusat perhatian.
“Arrgggghhhhhh, yang teliti dong ngecek-nya!!!” bentak Fahry menyambar keterangan resepsionis yang menyatakan jika dia salah alamat. “Salah alamat bagaimana?? Saya tidak mungkin salah alamat. Sahabat saya bekerja di sini sebagai Head Marketing sejak empat tahun lalu!! Saya sudah lima kali ke sini! Aneh!!”emosi Fahry kian menjadi-jadi. “Atau... kalian karyawan baru sehingga tidak kenal atasan kalian sendiri???”
Kekesalan Fahry pun akhirnya tumpah! Wajahnya merah padam. Napasnya bekejar-kejaran seperti hendak memburu mangsa. Dadanya mulai sesak dan naik turun tak teratur.
“Sekali lagi maaf, Pak, tapi nama yang Bapak cari benar tidak ada. Kami sudah mengeceknya berulang kali, Pak.”
Mendengar keterangan yang didapatnya selalu sama, perasaan Fahry semakin tak karuan. Kesal dan geram. Dia mulai memencet nomor sahabatnya. Namun, tak berhasil. Sekali, dua kali, tiga kali hingga sembilan kali Fahry memijit nomor Fardan. Tetap tak ada hasil. Berpuluh sms pun tertahan. Dia coba menghubungi kerabat yang lain, yang juga berteman dengan Fardan. Tapi tetap nihil.
Hampir setengah jam Fahry menghubungi satu per satu nomor teman-teman yang tersimpan di telepon genggamnya. Beberapa tersambung, tetapi jawaban yang didapat adalah ketidaktahuan, termasuk jawaban Tasya, kekasih Fardan sejak SMU! Beberapa lainnya sibuk, nada tulalit, atau di luar jangkauan.
“Benar kalian tak kenal Fardan Ferdinan Pratama???” tanya Fahry sekali lagi sembari menyodorkan kartu nama Fardan.
Sesaat, recepsionis itu tersentak. Membisu. Salah seorang resepsionis meraih kartu nama putih bercorak emas yang disodorkan Fahry sembari menirukan nama yang diminta: Fardan Ferdinan Pratama???!!
Ya. Mereka tidak mungkin lupa. Fardan adalah sosok yang familiar di perusahaan. Ramah dan bersahaja. Tak merasa berpangkat tinggi. Tak ada satu pun karyawan yang tidak mengenalnya, OB, sekalipun!! Mereka sangat mengenal sosok Fardan.
“Haloooo,” kejut Fahry, “Kok bingung dan bengong? Bagaimana?? Ada kan???” Teriakan Fahry memancing puluhan pasang mata di loby perusahaan menonton.
“Maaf, Pak. Ka..lau Pak Fardan Ferdinan yang Bapak maksud...”
“Memang dia yang dari tadi saya maksud, gimana sih???!!” selanya dengan nada kesal.
“Beliau sudah tidak lagi bekerja di sini, Pak...,”
“Tidak bekerja di sini?? Maksudnya?”
“Maaf, Pak Fahry.. dulu, Pak Fardan memang bekerja di sini, tetapi posisi beliau sudah digantikan oleh Bapak Rudi. Bapak Fardan tidak lagi bekerja di sini sejak setahun setengah yang lalu. Beliau dikeluarkan karena menghilang.”
“Dikeluarkan??? Menghilang???”
Belum tersembuhkan kekesalan Fahry, berita lain menjemput.
“Iya, Pak.”
“Tolong jelaskan, duduk perkaranya seperti apa?!! Saya nggak ngerti!”
“Selama setengah bulan, Pak Fardan tidak pernah masuk kantor. Tak ada berita juga kabar darinya. Karenanya, pihak kantor dengan berat hati mengeluarkan keputusan seperti itu. Maaf, hanya itu yang bisa kami sampaikan, Pak.”
Seketika itu juga Fahry lemas. Semangatnya yang mula membara dan menggebu-gebu kini hilang dalam hitungan detik. Lenyap. Amarah yang sedari tadi meluap kini seperti terpendam di dalam dada.
__________00000___________
Dengan langkah berat Fahry berjalan lunglai menuju pintu utama dan perlahan keluar dari gedung bertingkat itu tanpa ada kata apa pun dari bibirnya. Terlihat gurat-gurat kesedihan dan ketidakpercayaan pada raut muka Fahry. Banyak pertanyaan yang bergelayut dalam pikiran dan benaknya. Ada apa dengan Fardan??? Mengapa selama ini dia tak memberi kabar apa pun pada dirinya, sahabatnya sendiri??? Apa yang membuat Fardan menghilang hingga perusahaan memecatnya??? Masalah apa yang membuatnya hingga seperti ini???
Tidak sedikit pertanyaan berseliweran di pikiran Fahry. Silih berganti. Dadanya kian sesak dengan membludaknya rasa ingin tahu yang tak terbendung! Tanpa pikir panjang, Fahry bergegas meluncur ke kediaman Fardan.
“Bodoh!! Aku adalah sahabat yang tak layak disebut sahabat!” umpatnya dalam hati.
Di sepanjang jalan, Fahry menyalahkan dirinyanya sendiri. Tak habis pikir jika kedatangannya ke Jakarta justru mendapat kabar yang menusuk-nusuk hatinya!
“Bagaimana mungkin, aku sampai tidak tahu kondisi Fardan??!! Sahabat terbaikku sejak sepuluh tahun silam!! Bagaimana bisa aku sampai tidak tahu jika dia dilanda masalah?? Setengah tahun lalu???!!”
Taksi berwarna biru terus meluncur di ruas-ruas ibu kota. Sesaknya kendaraan di jalan seperti tak mau tahu kondisi hati Fahry yang tengah galau. Dia berusaha kembali ke masa lalu untuk mengingat-ingat kapan terakhir berkomunikasi dengan Fardan. Namun gagal!
“Bodoh!! Bodooh!! Boddddohhh!!!!” cercanya lagi dan lagi.
-------00000-------
Hari itu, langit Jakarta mulai menggelap. Bukan karena malam yang hendak menggantikan tugas sang siang, melainkan awan hitam yang sedari pagi menggelayut di cakrawala, layaknya hati Fahry yang juga tertutup awan kelabu. Semenit kemudian, langit pun menumpahkan beban yang tak kuasa lagi ditanggungnya.
Tak peduli hujan yang mengguyur. Fahry terus menerobos jutaan titik air yang turun dari langit. Langkahnya mengayun diiringi kecipak air kepiluan. Dadanya kian sesak seperti terhimpit kegalauan dan kecemasan.
Sesampainya di rumah Fardan, tak ada apa pun yang dia temukan, kecuali hunian kosong! Fahry melempar pandangan ke segala arah. Halaman rumah ditutupi dedauan kering. Berserakan dan menumpuk di sela-sela pekarangan. Jendela kaca kusam penuh debu. Tanaman hias mati tak terurus. Di sudut taman hanya tinggal sarang burung yang tanpa penghuni!!
Meski demikian, Fahry berkali-kali mengetuk pintu. Berharap ada jawaban dari sahabat yang telah membuatnya kalang kabut. Sesekali mengayunkan gagang pintu berwarna cokelat tua. Berkehendak tak dikunci agar kegelisahannya terhapuskan. Fahry terus menggedor-gedor pintu dan berteriak memanggil nama sahabatnya itu. Dengan nada berat dan pilu, suara Fahry berlomba dengan gemuruh petir yang menggelegar sore itu.
Sayang, harapannya tak terpenuhi! Dengan pakaian basah kuyup yang melekat di tubuhnya, Fahry terkulai lemas. Dia tersungkur di depan pintu. Harapannya kandas. Sekelibat dia teringat Tasya, kekasih Fardan yang menetap di Yogja. Tanpa buang waktu Fahry pun merogoh ponselnya guna menghubungi Tasya, kekasih sahabatnya itu untuk puluhan kalinya. Namun, Tasya tak banyak bicara.
“Aku nggak tahu, Ry, di mana Fardan. Kita dah nggak bareng lagi sejak setahun setengah yang lalu. Maaf ya Ry, aku nggak bisa lama-lama, lagi sibuk banget.....” Dan sambungan pun terputus.
Lagi-lagi Fahry terkejut. Bertubi-tubi berita tak baik datang menghampiri. “Fardan putus sejak setahun setengah yang lalu??!!” kemamnya dalam hati. Dia semakin menyalahkan diri sendiri. Mengapa dia tak lagi tahu kabar sahabatnya sendiri! Bodoooohhh!!
-------00000-------
Tiga hari berlalu. Fahry masih menunggu di depan rumah Fardan. Segala usaha telah ditempuhnya. Sanak keluarga, teman sejak kecil, hingga siapa pun yang bisa didapat informasi tentang sahabatnya itu telah dihubunginya, termasuk bertanya pada orang yang lalu-lalang di ruas-ruas ibu kota dan pinggirannya. Tapi, masih belum ada petunjuk!
Setelah letih mencari seharian, Fahry pun kembali. Dia duduk dan berdiam diri di sebuah kursi kayu panjang berwarna hijau yang bertengger di halaman. Ditemani kesunyian, kehenigan, serta aroma rumput basah yang masih menyengat, Fahry terus menanti Fardan. Berharap sahabatnya itu pulang, meski harapan tersebut berlebihan dengan kabar yang tersiar di luaran. Lamunan pun membawanya pada masa silam. Masa di mana terajut kenangan manis, bingkai hidup yang memesona, dan episode persahabatan yang mengharu biru bersama Fardan.
Malam itu, pukul 21.35. Fahry menggeletak di atas kursi hijau. Lelah menikam tubuhnya. Kegundahan belum juga beranjak pergi dari benak dan pikirannya. Gelisah bercampur pilu. Harus ke mana lagi dia mesti mencari? Apa lagi yang mesti dilakukan?? “Andai orang tua Fardan masih ada, mungkin mereka lebih gelisah dan lebih tersayat,” lirih Fahry pahit.
Dia pun bersandar pada kursi yang dingin. Sesekali merebahkan badan di kursi hijau panjang di bawah rindangnya pohon jambu di pekarangan. Pandangannya menghujam pada kegelapan malam. Pikirannya menerawang jauh ke alam yang tak tergapai. Dinginnya malam memaksa marasuk ke kulitnya. Membuatnya lagi-lagi menggigil. Di sela-sela keheningan, terdengar suara derap langkah yang kian lama kian mendekat. Suara itu semakin jelas terdengar hingga membuyarkan keheningan yang tercipta. Jantungnya berdegup kencang. Darahnya mengalir lebih cepat. Dia terperanjat.
Tak lama kemudian, langkah itu mendekati pagar rumah. Suara pagar dibuka kian terdengar gamblang. Ia bertambah yakin. Sepertinya ada yang datang, begitu kira Fahry dalam hati. Karena gelapnya malam, ditambah tak ada lampu yang menyinari pekarangan, Fahry tak dapat melihat jelas siapa gerangan yang datang.
“Dan? Itu lo, kan? Daaaan!! Fardaaan, lo ke mana aja Daaaan??? Jawab gw, Daaan!!” teriak Fahry sembari bangkit dari duduknya dan meraba-raba mencari sosok yang datang. Hatinya bertambah tak keruan.
“Permisi..,” suara lembut seorang wanita memecah kesunyian. Menambah kegundahan dan kegelisahan di hati Fahry.
“Maaf. Mas ini temannya Mas Fardan ya?” tanyanya sembari mendekat dan memunculkan diri.
“I...ya. I..ya. Mba kenal Fardan?? Dia di mana ya Mba? Tolong beri tahu saya Mba. Saya temannya dari Surabaya. Tolong Mba. Berhari-hari saya sudah mencari dia, tapi nggak ketemu...” Fahry terus menembakkan peluru pertanyaan pada gadis itu. Gadis berparas ayu yang tak dikenalnya sama sekali.
“Tasya,” ujarnya memperkenalkan diri sembari menyodorkan tangan. “Paramitha Anastasya Daniel,” sambungnya melengkapi sembari tersenyum.
“Ta..sy...a? apa? Namamu?”
“Tidak perlu terkejut begitu,” ujar Tasya seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran Fahry.
Setelah berkenalan, Tasya segera menuju rumah Fardan.
“Kamu punya kunci rumah ini???” tanya Fahry yang lagi-lagi dibuatnya tersentak.
“Iya. Nanti saya ceritakan semua di dalam. Ayo masuk. Bajumu basah semua. Nanti masuk angin. Gantilah dengan baju Fardan!” ajaknya sembari mengambilkan baju ganti.
Fahry masih mematung tak paham di pekarangan. Memandang sosok gadis ayu yang sepertinya hafal seluk beluk rumah Fardan hilang memasuki kamar! “Mengapa gadis itu tiba-tiba muncul dan memegang kunci rumah Fardan?? Siapa dia? Apa hubungan dia dengan Fardan?? Mengapa dia tahu betul letak barang-barang yang ada di rumah ini??” Satu per satu pertanyaam membuncah di benaknya. “Ah, siapa pun dia. Semoga wanita itu bisa memberiku petunjuk tentang Fardan!!”
Tak mau buang waktu. Fahry pun menerobos masuk ke rumah Fardan. Dia menebar pandangan ke setiap sudut rumah. Terperangah karena semua barang Fardan tersusun apik. Seperti diurus oleh penghuninya. Tak berdebu dan berantakan seperti yang terjadi di pekarangan sewaktu pertama kali dirinya menginjakkan kaki.
“Aku sahabat Fardan setahun yang lalu,” kisah Tasya memulai. “Aku mengajar di salah satu sekolah menengah di dekat daerah sini. Setiap pagi, aku melintasi jalan depan rumah sahabatmu ini Ry.”
“Kau tahu namaku?” tanya Fahry menguji.
“Fahry kan, namamu?”
Lagi-lagi Fahry tersebtak. Dia hanya menganggukkan kepala sembari mendengar gadis itu kembali bercerita.
“Setiap pagi juga, kulihat Fardan termenung, selalu. Wajahnya pucat. Tubuhnya kurus tak terurus. Tatapannya kosong. Dia kerap duduk di pekarangan. Di atas rumput sambil memandangi daun kering yang dimainkan tangannya. Seperti banyak hal yang dipikirkan. Berawal dari keprihatinan, akhirnya aku terseret masuk ke dalam hidupnya. Ya, kehidupannya yang tragis!”
“Apa maksudmu terseret? Juga tragis, Sya?? Apa yang terjadi dengan Fardaaan??!! Katakan padaku, di mana Fardan sekarang??” desak Fahry yang seketika bangkit dari duduknya lalu menggoyang-goyang bahu Tasya.
Fahry semakin tak mengerti. Kata tragis yang keluar dari bibir mungil Tasya kian membuatnya gundah. Satu per satu peristiwa buruk pun menghantui pikirannya! Tak mau berhenti!!
“Tenanglah, akan kuceritakan semua.”
“Aku nggak peduli!! Katakan sekarang di mana Fardaaan??!!” desak Fahry tak sabar.
“Saat itu, aku prihatin dengan kondisi Fardan. Keadaannya sangat sangat mengkhawatirkan! Kuberanikan diri untuk berkenalan waktu itu, sekadar menjadi teman berbincang. Mungkin hal itu bisa mengurangi beban pikirannya. Sebab setelah kuperhatikan, tak ada seorang pun teman yang bertandang menghiburnya,” lanjut Tasya bercerita. Dia sama sekali tak menghiraukan amukan Fahry.
“Hari-harinya terlihat sepi. Sampai suatu hari, aku tahu kalau rasa sakit hatilah yang membuat Fardan begini. Termasuk penyebab dia dipecat dari perusahaan ternama tempatnya bekerja. Aku tak mengerti mengapa Fardan begini. Tapi, ituah yang terjadi. Dan, wanita yang telah menghancurkan mimpinya itu bernama sama denganku: Paramitha Anastasya!!”
Fahry mulai terlihat tenang mendengar penuturan gadis yang baru dikenalnya beberapa menit lalu. Gadis yang tiba-tiba datang menghampiri, membukakan pintu untuknya, mengambilkan baju salin dan menyuguhkan secangkir teh hangat guna membunuh dingin yang sedari tadi menerkamnya.
“Awalnya, dia sempat terguncang saat mendengar namaku. Ada sinar kebencian yang nampak di matanya. Namun, aku berusaha yakinkan dia, meski namaku sama dengan wanita yang menyakitinya, kita tetap berbeda! Rasa sakit itulah yang membuat hidup Faradan berantakan. Kacau dan tak teratur. Dia tak bisa lagi konsentrasi. Hanya melamun seharian. Tak mau makan, minum, apalagi berbicara dengan orang lain. Dia depresi berat!”
“Depresi??”
“Ya.”
“Lalu, apa maksudmu terseret?” tanya Fahry penasaran.
“Fardan sangat terpukul dengan kejadian itu. Tasya, wanita yang paling dicintainya memilih hidup dengan orang lain yang katanya, lebih dewasa, dan mapan. Padahal Fardan, menurutku, pun sudah mapan dan dewasa. Entahlah. Aku tak mengerti jalan pikiran perempuan itu. Begitu baik dan sempurnanya Fardan. Tapi, dia lebih memilih orang lain.”
Gadis itu terus berkisah...
“Saat kondisinya seperti itu, akulah yang merawat dan menumbuhkan semangat baru dalam diri Fardan. Setiap hari, kuajak dia berbincang, apa pun yang bisa membuatnya pulih dari rasa sakit yang terus mendera. Mengajaknya bangkit dari keterpurukan yang melanda. Hari terus bergulir. Fardan mulai membuka hatinya untukku, setelah setahun peristiwa itu. Aku pun sudah sejak lama menyimpan perasaan padanya.”
Tasya terus berkisah tentang dirinya dan Fardan. Dengan mata berkaca-kaca dan terbata-bata dia menguatkan diri untuk terus berkisah dan berkisah..
“Namun, hubungan kita tak berjalan lama. Hanya dua hari!! Sehari setelah Fardan membuka dirinya untukku dan ingin menjalin hubungan yang lebih serius, dia mengakhiri hubungan ini. Katanya, sampai kapan pun dia tak bisa mencintai orang lain. Hanya Tasya dan Tasya. Tasya, kekasihnya dulu, wanita yang telah menghancurkan mimpi-mimpinya itulah yang selalu bersemayam di darah, jiwa, pikiran hingga denyut jantungnya, sampai mati!! Bagitu besar cinta Fardan pada Tasya, Ry. Hingga aku tak pernah dianggapnya. Hidupnya nyaris hancur!! Padahal, sedetik pun wanita itu tak pernah mengingat Fardan!!
Suasana tiba-tiba hening. Hanya terdengar suara isak tangis ditemani deru hujan yang turun. Sepertinya wanita mungil berambut panjang itu tak kuasa menceritakan masa-masa yang menyayat kalbunya.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Fahry.
“Ma..af, a..ku nggak apa-apa. Meski hanya dua hari kita menjalin hubungan, aku tetap bahagia karena bisa menemani Fardan. Menjadi sahabat baiknya, hingga kini. Karenanya, dia memberiku kepercayaan untuk mengurus rumah ini setelah kita memutuskan untuk bersahabat. Oya, Fardan pernah bercerita padaku jika dia punya sahabat dekat di Surabaya, Fahry namanya.”
“Ya, itu aku.” Sambar Fahry menyahut.
“Sudah kutanya waktu itu, mengapa dia tak menghubungimu untuk berbagi rasa. Tapi katanya, dia tak ingin menyusahkan sahabatnya itu. Dia ingin menanggung sendiri!” papar Tasya menirukan ucapan Fardan.
“Lalu sekarang Fardan di mana? Bagaimana kondisinya? Apkah baik-baik saja?”
“Kamu yang sabar ya, Ry. Fardan sudah agak lebih baik. Dia sudah berada di tempat yang tepat. Ditangani oleh orang-orang yang ahli.”
“Maksud kamu?”
“Dia ada di sini. Temuilah dia besok...” ujar Tasya sembari menyorongkan sebuah kertas.
“Apa ini?”
“Itu alamat di mana Fardan tinggal, Ry....”
Malam kian larut. Gelap pun bertambah pekat. Namun, hujan masih terus mengguyur ditemani tiupan angin yang membelai syahdu. Kini, sedikit tenang hati Fahry, meski dia belum bertemu dengan sahabatnya. Tapi paling tidak, besok dia tahu ke mana harus mencari Fardan. Tasya pamit pulang dan menyerahkan kunci rumah Fardan kepada sahabatnya, Fahry. Fardan memang sengaja menyerahkan kunci rumah itu sebelum akhirnya dia harus menginap di sebuah tempat yang kini dihuninya: RUMAH SAKIT JIWA!!

Bagaimana jadinya jika hati yang terpasung?? Tak sanggup melepaskan diri dari jerat yang senantiasa mengikat. Tidak mampu bergerak, apalagi berontak. Sang hati terlanjur tertaut pada satu cinta. Cinta yang dahulu selalu dimanja, dijaga, bahkan dipuja hingga membabi buta. Tapi kini, justru CINTA itu memasung hatinya.
Sebutlah pemuda itu Fardan. Tak ada yang kurang dari dirinya. Nyaris sempurna di mata wanita. Dari segi fisik, Fardanlah incaran gadis seusianya. Bahkan, wanita yang lebih tua pun berlomba merebut hati pemuda yang terkenal mapan, bertanggung jawab, ramah, dan murah senyum ini. Kapabilitasnya yang bernilai sembilan mengantar karirnya melejit menduduki posisi terpenting di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Sifatnya yang bersahabat, periang, penyayang, dan penyabar sanggup merontokkan hati para wanita di seantero kantor tempatnya bekerja. Namun kini apa yang terjadi dengan Fardan.
-****-
Belakangan, sikap Fardan berubah hampir seratus delapan puluh derajat. Senyumnya yang kerap mengembang setiap berpapasan dengan rekan-rekannya pun seakan sirna. Raut wajahnya yang senantiasa riang seolah musnah. Kini, hanya kemurungan dan kesedihan yang terpancar darinya.
“Hei, Dan. Baru dateng, Lo?” sapa Rizal, teman sekantornya yang kebetulan pagi itu bertemu di loby. Rizal pun langsung menenggerkan tangan kanannya di pundak Fardan layaknya dua teman karib, dan mereka pun beriringan menuju ruangan.
“Hallloooooo...,” kejut Rizal karena merasa sapaannya tak direspons sembari melambaikan tangan di depan muka Fardan, “Kenapa sih lo, pagi-pagi dah lemes banget? Pake bengong lagi!!”
“Ga apa-apa, Zal,” sahutnya lemah.
“Serius, Dan, ga apa-apa?? Sumpah!! Lo lesu banget, Dan,” Rizal tercengang, “Lo.. aneh tau ga. Lo sakit??!”
Tak ada satu kata pun meluncur dari mulutnya. Fardan kembali terdiam dengan tatapan kosong.
“Woooiii, serius gw nanya. Yeeee, malah bengong lagi. Lo sakit? Kalau sakit, ga usah masuk, Bro. Biar nanti gue yang presentasi. Nyantai aj.”
Masih tak ada jawaban.
“Buset dah!!! Gw nanya ma tembok kali???” keluh Rizal sambil menghentikan langkahnya.
“Eh, sory ,Bro,” balas Fardan gugup, ”Gue ga apa-apa. Cuma lagi banyak pikiran aj. Gue duluan ya.” Fardan pun berbalik arah lalu mempercepat langkah meninggalkan Rizal yang masih mematung tak mengerti.
“Wooooi, Daaaan.... Mau ke mana Lo??” teriak Rizal sekuat tenaga. Spontan, mereka pun jadi pusat perhatian. Namun, Fardan tak menghiraukan teriakan Rizal. Langkah kakinya semakin cepat dan menjauh hingga hilang di kerumunan karyawan.
-****-
Lagi-lagi, hari itu, Fardan tak masuk kantor. Sama seperti tujuh hari belakangan. Jika ke kantor pun, dia bergegas kembali pergi. Entah ke mana dan apa yang dia cari. Tak ada yang tahu. Kadang pulang ke rumah lagi, sesekali menghabiskan waktu sendiri. Sikapnya yang aneh mulai dipertanyakan rekan-rekan sekantor. Pasalnya, teman setimnya pernah memergokinya melamun seharian. Juga mendapatkan dirinya murung di tengah keramaian. Tak ada gairah bekerja, apalagi kelakar yang sering dilontarkannya.
Tepat tiga minggu Fardan tak ada kabar. Padahal kala itu, dia tengah menangani sebuah proyek penting. Telepon genggamnya tak bisa dihubungi. Rumahnya pun terkunci dan seperti tak pernah disinggahi. Mengetahui hal tersebut, teman dan sahabatnya pun resah. Mereka berulang kali mencari tahu penyebab keganjilan yang terjadi pada sikap sejawatnya. Atau setidaknya dapat bertemu atau mengetahui kondisi rekan kerja yang selama ini mereka cari.
Segala macam cara telah ditempuh. Termasuk mengunjungi beberapa sanak famili, sahabat, dan kerabat Fardan di Jakarta. Namun, semua nihil. Tak ada satu petunjuk pun yang bisa membantu. Dan kini, Fardan benar-benar menghilang....
-****-
Hingga lima bulan Fardan tak meninggalkan jejak. Tak ada kabar juga berita yang diterima pihak perusahaan. Akhirnya, kantor tempat Fardan bekerja memutuskan untuk mengambil sikap tegas: FARDAN DIPECAT!! Tragis. Karir yang dibangunnya dari nol kini runtuh bak dihantam bom dalam sekejap. Perusahaan kecewa dan merasa dirugikan oleh sikapnya. Padahal awalnya, pihak perusahaan memberikan sedikit waktu untuk Fardan sebelum keputusan pemecatan itu dikeluarkan. Namun, gayung tak bersambut. Fardan tak memunculkan diri. Bahkan, hingga sebulan ketetapan pemecatan Fardan, tak ada informasi apa pun tentangnya.
Karir Fardan benar-benar jatuh. Reputasinya ambruk di mata kolega. Meski demikian, kerabat Fardan merasa kehilangan sosok sahabat, sekaligus rekan kerja yang periang dan brilian itu. Namun,tak ada satu orang pun yang tahu keberadaannya, hingga saat ini, bahkan.
-****-
[bersambung ya...]

“Telah kuputuskan untuk tak bersahabat lagi dengan air mata!! Akan kutolak saat ia hendak hadir dan mengalir. Akan kuhempas ketika ia ingin datang dan bertandang. Sekuat tenaga!! Aku tak boleh kalah. Akan kuenyahkan ia, walau hatiku teriris” tulis Mey dalam diary yang tak sengaja kubaca saat buku mungil itu terbuka di sudut ranjangnya ketika aku dimintanya menginap.
Memang, beberapa minggu terakhir sejak perpisahannya dengan Bara, tak pernah sekalipun kulihat Mey menitikkan air mata. Tak seperti dulu saat dia harus mengakhiri kisah cintanya dengan beberapa lelaki yang pernah singgah dalah riwayat asmaranya.
Dulu, Mey tak pernah berhenti terisak. Tubuhnya hampir habis karena terus menangis. Dia kerap memintaku untuk menemaninya, atau hanya sekadar mendengarkan kisah serta jeritan hatinya yang tak pernah sembuh oleh luka karena cinta. Namun kini, pemandangan lain mengejutkanku. Mey berubah. Sama sekali berubah. Dia selalu tersenyum, ceria, dan terlihat bahagia.
“Kini, tak ada lagi kata MENANGIS dalam kamus hidupku!! Tak boleh ada!!”
Kali ini, aku tersentak dengan jajaran kalimat yang ditulis Mey, sahabatku. Mungkinkah dia menyembunyikan kesedihannya dari orang lain, termasuk aku sahabatnya sendiri. Kubuka lembaran selanjutnya. Kutemukan tulisan singkat Mey yang cukup menggetarkan hatiku. Tulisan yang ditulis beberapa minggu sejak tulisan sebelumnya ditorehkan.
“Diary, aku tak sanggup…”
Di mana ada cinta, di sanalah air mata berada. Keduanya tak pernah bisa dipisahkan. Percayalah, setiap pecinta yang mencinta tak pernah air mata meninggalkannya. Siapa berani mencinta, berarti dia harus siap berlinang air mata. Siapa siap dicinta, dia pun harus bersedia bersahabat dengannya.
Cinta, jalannya tajam dan curam. Tapi terkadang, mulus dan lurus. Namun, keduanya tetaplah lintasan yang tak pernah sepi oleh butiran-butiran lembut yang kerap menitik, merintik, bahkan mengalir deras. Air mata adalah gambaran hati. Potret jiwa yang berbahagia, juga yang menderita. Ada kalanya di persimpangan jalan, cintalah mengundang air mata itu untuk hadir dan mengalir. Mengajaknya untuk datang dan bertandang.
Menagislah jika kau ingin menangis…

/1/
Sore itu, matahari mulai meninggalkan singgasana. Pertanda senja segera tiba. Namun, pancaran cahayanya yang memukau masih menghiasi cakrawala. Entah mengapa, harmonisasi warna yang sungguh menakjubkan justru kian mengiris-ngiris batinku. Sisa-sisa sinarnya menghujam gumpalan awan sore yang terus berarak, layaknya pedang sang pendekar yang menancap jantung musuhnya.
Di tengah itu, burung-burung kecil saling berkejaran. Mungkinkah mereka sekelurga? Ah, betapa indah jika memang iya. Mereka menari lincah dan bernyanyi riang. Kulihat ada beberapa burung yang tertinggal dari gerombolannya. Bukannya dibiarkan, gerombolan itu justru menunggu burung-burung lain yang terbang lambat, jauh di belakang mereka. Sungguh membuatku iri. Kuamati lekat-lekat panorama yang memukau itu dari belakang jendela. Bibirku tersenyum, tapi perlahan-lahan hatiku gerimis. Pilu.
/2/
Tak kusadari titik-titik air menetes. Harusnya, aku berbahagia. Mestinya, aku bersemangat karena esok adalah hari kemenangan. Tapi, aku kerap seperti ini kala menjelang Idul Fitri: terdampar di ruang kecil yang sepi. Sendirian. Kuamati para tetangga dari balik bingkai jendela. Setiap orang bercengkerama dengan keluarga mereka masing-masing. Tertawa bahagia. Bersendau gurau. Atau sekadar jalan bersama ayah atau bundanya menyambut hari esok yang dinanti.
Kubalikkan tubuh. Seketika itu juga mataku menjelajahi setiap sudut kamar. Tak ada foto keluarga di kamarku. Hanya ada foto ayah dan aku. Itu pun 22 tahun silam saat aku berusia 5 th. Ayah memelukku hangat. Pandanganku terhenti pada sisi lemari. Ada sejumlah bingkisan menumpuk di sana. Memang, sejak tiga hari lalu satu demi satu parcel dari teman sejawat dan relasi berdatangan silih berganti. Ada yang besar juga ada yang kecil. Isinya pun beragam; mulai dari makanan, minuman, hingga parcel pecah belah.
Kuawasi satu per satu. Ternyata semua ada delapan, tapi belum satu pun bingkisan yang kusentuh. Melihat pengirimnya pun aku seperti enggan. Belum lagi kartu lebaran yang bertindih di meja kerjaku. Sejujurnya, bukan bingkisan itu yang kumau sejak berpuluh tahun silam.
Pandanganku kemudian mengarah pada sebuah meja yang bersebelahan dengan ranjang. Meja persegi panjang berwarna cokelat tua buatan kota ukir di Jawa Tengah. Aku tak pernah lupa. Meja itu adalah pemberian cuma-cuma dari sahabat ayah saat aku melakukan perjalanan ke Jepara lima tahun silam. Ukirannya yang unik dan –sepertinya rumit- juga kayu jati yang digunakan sebagai bahan dasar menandakan jika harga meja itu tidaklah murah.
“Bawalah, Ndo, meja ini untukmu. Ini tidak seberapa bila dibanding jasa ayahmu padaku dulu,” ujarnya lirih. “Anggap ini permohonan maafku karena belum sempat membalas kebaikan ayahmu, terlebih absen saat pemakamannya,” tuturnya sembari mengusap air mata yang tiba-tiba menitik.
Seketika itu juga, peristiwa tersebut seakan baru kemarin terjadi. “Ndo, jangan sungkan padaku. Anggap Pakde ini sebagai keluargamu. Datanglah ke mari kapan pun kamu mau. Pintu rumah Pakde terbuka untukmu, Ndo,” ucapnya sembari berkaca-kaca setelah bercerita panjang tentang hubungan yang terjalin erat antara dirinya dan ayah berpuluh-puluh tahun lalu. Pakde Joko adalah sahabat terdekat ayah. Banyak peristiwa yang mereka arungi bersama karena hampir separuh hidup ayah dilalui bersama beliau. Di usianya yang tak lagi muda, Pakde Joko masih giat bekerja. Mengurus mebel ukiran yang dibangunnya sejak 35 tahun lalu, bersama ayahku.
“Ibumu masih ada, tapi Pakde tak pernah tahu keberadaannya. Jangan pernah kau merasa hidup sebatang kara di dunia ini, Ndo. Sebelum kaumenemukan ibumu, ada Pakde yang menjadi keluargamu. Berkunjunglah ke mari. Kaumasih punya keluarga,” pintanya menguatkanku seakan tahu apa yang aku rasakan.
Namun, dua bulan yanglalu Pakde menyusul ayah. Tiba-tiba saja dadaku sesak. Air mata yang setadinya enggan keluar, kini tak terbendung. Isak tangis pun pecah di malam yang penuh gema takbir.
Ayahlah satu-satunya orang tua kandung yang merawatku sejak bercerai dengan ibu. Semenjak kecil, ayah merawat dan menghujaniku dengan penuh kasih sayang dan cinta, tak kurang sedikit pun. Hingga suatu hari, saat aku beranjak remaja, Ayah pergi selamanya, tanpa aku tahu di mana ibu kandungku berada. Aku pun tinggal dengan perempuan yang dinikahi ayah, itu pun hanya untuk beberapa tahun karena ibu keduaku pun menyusul ayah.
/4/
Masih di tempat yang sama: di balik jendela. Setelah sedikit puas menyisir seluruh ruangan, kubalikkan lagi tubuhku. Dengan wajah sembab, kubiarkan diri ini memandangi langit. Kini, matahari benar-benar telah tenggelam. Hari pun diselimuti gelap. Yang terdengar bukan lagi kicauan burung yang bernyanyi riang, melainkan gema takbir yang menggema di seluruh sudut kota. Menyayat dan mengaharu biru bagi sesiapa yang meresapinya.
Bertahun-tahun sudah aku mencari ibu, tapi tak pernah kutemui. Mengapa ibu tak pernah mencariku? Mengapa ibu tak peduli padaku? Atau mungkinkah ibu melupakanku? Ibu, tak tahu kah engkau jika anakmu ini rindu? Tak merasakah engkau jika darah dagingmu ini menderita karena cinta padamu? Tak mendengarkah engkau jika tiap malam aku menangis ingin dipeluk dan dicium olehmu? Sudah ribuan malam aku memimpikan menghabiskan hari raya bersamamu. Sudah milyaran jam aku mengidamkan dipeluk ibu, meski semenit.
Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah kudapatkan jawabannya sejak berpuluh tahun lalu, bahkan hingga kini. Dan, bingkisan yang selama ini kuidamkan tertuang dalam buku diaryku yang talah tertulis sejak puluhan tahun silam.
“Aku hanya ingin ibuku, satu-satunya orangtua kandung yang kumiliki. Aku hanya mendambakan pelukan perempuan yang dulu mengandungku sebagai bingkisan terindah di hari yang fitri. Ciumannya, belaiannya, cumbunya, kasih sayang dan cintanya yang tak pernah kuterima sejak dulu. Aku haus akan semua itu.... Ibu, aku hampir terbunuh rindu. Selamat Idul Fitri, Bu... ”

Maksud hati ingin memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Sepertinya, peribahasa itulah yang sesuai untuk para pambayun di seluruh penjuru nusantara, tidak pandang yang berada di desa atau di kota. Para pambayun yang mau tak mau, mutlak untuk takluk pada pilihan hidup yang bersifat skala prioritas.
Dengan keterbatasan yang mengkungkungnya, dia harus mengugurkan impian yang sejak dulu menembus relung hatinya, tertancap dalam sanubarinya. Memilih satu dari dua pilihan yang baginya tidak mampu dilakukan, tetapi harus tetap dijatuhkan, mau tak mau. Suka atau tidak suka.
Di suatu sore yang indah, di pinggiran kota metropolitan, matahari mulai kembali ke peraduannya. Sinarnya yang masih memancar menambah kemegahan lukisan langit karya Maestro Terhebat.
Di ujung jalan, kulihat seorang bapak tertatih-tatih berjalan pulang sembari menggenggam beberapa karung beras di tangannya. Aku taksir usianya sekitar 55 tahun. Namun, tubuhnya terlihat tegap dan gagah. Di pundaknya masih tertumpu beberapa barang rongsokan yang diambilnya dari pinggir-pinggir jalan, atau mungkin dari tumpukan-tumpukan sampah di perumahan. Pakaiannya sangat sederhana, hanya kaus oblong berwarna coklat tua dan bercelana kain yang kurang lebih berwarna sama. Alas kakinya pun sendal jepit yang berlainan warna, bukan pasangannya. Dan ternyata, di pinggiran kota yang tak pernah mati itulah bapak tersebut tinggal bersama ketujuh putra dan seorang istrinya.
Kuperhatikan dia dari jauh. Ternyata, rumahnya bersebelahan dengan tempatku berdiam diri saat itu: di sebuah warung kecil milik Bu Mira. Tempat tinggalnya sangat mungil dan sederhana, sungguh sederhana karena hanya terbuat dari susunan triplek bekas dan tipis. Hanya satu ruangan dalam rumah itu. Seluruhnya bisa terlihat dari tempatku. Bisa kuartikan tempat itu tak layak untuk tinggal.
Namun sepertinya, mereka tak peduli. Senyum keluarga itu tak pernah sirna karena kemiskinan. Sebelum masuk, sang bapak tersenyum ramah padaku. Aku pun membalasnya dengan ramah pula.
Sembari menunggu temanku yang sedari tadi belum juga datang, kuperhatikan keluarga bapak tersebut dari tempatku berada, tentu saja dengan diam-diam.
“Bapak pulaaaang, Bapak pulaaaang,” sambut anak-anaknya riang setelah melihat bapak mereka memasuki rumah.
Ah, indahnya, gumamku dalam hati. Kejamnya hidup tak melunturkan tawa dan keriangan mereka. Namun, wajah bapak itu terlihat pucat. Kesedihan tersurat jelas di parasnya yang tampak menua. Mungkin, dia terlalu letih karena telah berjalan jauh. Tak diresponsnya sambutan anak-anak. Dia pun terkulai di atas sebuah kursi reyot di sudut ruangan. Tak lama kemudian, istrinya muncul menyuguhkan segelas teh yang diletakkan di sebuah meja di sudut rumah.
Belum juga menenggak teh buatan sang istri, bapak berbaju cokelat itu keluar dan duduk di pelataran rumahnya, di sebuah bangku hijau panjang, tepat sejajar denganku. Dia termangu. Sendirian. Anak-anaknya berhamburan keluar rumah. Masih bersorak-sorai memanggil-manggil bapak mereka. Aneh, sang bapak tetap membatu. Dengan penuh kelembutan, dimintanya semua anak masuk rumah.
Kemudian, sang bapak memanggil salah seorang putranya, Indra. Lalu, terdengarlah percakapan di antara mereka, “Ndra, mulai besok kamu bantu Bapak kerja ya. Mencari barang-barang bekas untuk kita jual,” ujar sang bapak.
“Tapi, Pak, besok ada pengambilan rapor di sekolah,” jawab Indra bersemangat, “Kata Bu Nani, wali kelas Indra, nilai UN Indra terbesar, Pak,” kisahnya bahagia. “Emm, begini saja,” usul Indra yang sepertinya tak ingin mengecewakan bapaknya, “Setelah Bapak ambil rapor, Indra janji bantu Bapak cari uang, ya? Indra mau bantu Bapak, meski harus sampai malam kok, gimana, Pak?” tawarnya.
“Ga bisa. Pokoknya, besok kamu harus ikut Bapak kerja!! Tak usahlah diambil rapormu itu,” bentak sang bapak tiba-tiba.
“Tapi, Pak...,” ujar Indra menimpali, “Bagaimana aku bisa melanjutkan sekolah jika raporku tidak diambil? Aku ingin masuk SMU unggulan, Pak. Kata Bu Nani, aku bisa masuk karena nilaiku sangat istimewa.”
“Tidak perlu kamu ambil rapormu,” hentak sang bapak untuk kali kedua. kali ini, wajahnya merah padam, “Kamu tidak dengar? Bapak kan sudah bilang, kamu tidak akan melanjutkan sekolahmu lagi. Titik!”
Kulihat Indra tertegun. Segurat kekecewaan mulai nampak di wajahnya yang menyimpan dalam-dalam hasrat melanjutkan sekolah.
“Aku ingin jadi insinyur, Pak,” ucap Indra lirih, “Aku ingin bangunkan rumah megah untuk Bapak Ibu dan adik-adik. Aku tak punya hati meihat Bapak setiap hari tidur di depan pintu rumah, dan Ibu kedinginan tiap malam.”
“Nah, itu. Jika kamu tidak tega dengan Bapakmu ini, kamu harusnya bantu Bapakmu ini cari duit. Jangan bisanya hanya menghabiskan duit!!” Kulihat Indra diseret masuk ke rumah. Dimarahinya dia habis-habisan. Meski tak terlihat olehku, tetapi suara mereka terdengar jelas hingga keluar.
“Tidak tahu diri. Masih untung kamu sekolah. Asal kamu tahu,” teriak bapak itu, “Bukan hanya kamu saja yang ingin sekolah! Kamu juga harus memikirkan nasib adik-adikmu. Kebutuhan kita yang lain, kayak, makan, bayar listrik, beli susu untuk adikmu Wina, sekolah Rizal, Bima, Irma. Kalau kamu sekolah sampai jadi insinyur, sampai tinggi, adik-adikmu tidak akan bisa sekolah!! Harusnya, sebagai anak pertama, kamu itu ngerti kesusahan orangtua??!! Memang kamu kira penghasilan Bapakmu ini banyak apa, hah?! Banguuuuun, jangan mimpi terlalu tinggi, kamu!!”
Sayang, aku tak bisa melihat kelanjutan percakapan mereka. Temanku sudah datang menjemput. Itu artinya aku harus segera pergi. Sungguh, tidak sedikit para pembayun yang bernasib demikian. Dia dibelenggu oleh kebutuhan yang sepertinya tidak pernah berhenti dan senantiasa datang silih berganti. Secara tak langsung, dia dipasung oleh tanggung jawab yang wajib ditunaikannya; ‘dipaksa’ berbagi kehidupan dengan saudara-saudara kandungnya yang lain, lalu mau tak mau membuang hasrat yang telah lama terpatri dalam lubuk hatinya. Dalam hal ini, bukan hanya berbagi makanan, minuman, tempat tidur, atau ruang untuk melindungi diri dari panas dan dingin, gelap dan terang, melainkan berbagi masa depan.
Indra adalah secuil pembayun yang berusia muda yang dituntut untuk mengerti sesuatu yang belum waktunya untuk dimengerti. Jangankan menghidupi adik-adik dan orangtuanya, untuk dirinya sendiri pun terkadang dia dilanda kebingungan. Tidak tahu harus berbuat apa.
Tak jarang, aku angkat topi untuk para sulung yang berhasil menapaki tajamnya hidup dengan keringatnya sendiri. Tanpa uluran tangan saudara atau mengemis belas kasih dari orang lain. Berpayah-payah dan memeras keringat demi menafkahi keluarga, lalu mengambil alih tugas ayah bunda yang renta atau bahkan telah tiada. Terlebih, jika si sulung itu seorang wanita dan beradik tidak lebih dari tiga.
Karenanya, tidak salah jika tidak sedikit para pembayun yang berkarakter keras, bertanggung jawab, dan dewasa. Hiduplah yang mendidik mereka menjadi orang-orang yang tangguh dan kuat. Kesulitanlah yang membentuk mereka menjadi orang hebat dan dahsyat. Tak cepat putus asa dan menyerah, meski mereka kerap kalah. Merekalah orangtua kedua bagi adik-adik mereka, setelah orangtua dalam arti sesungguhnya: ibu bapak. Tak bisa dimungkiri, seringkali mereka bertanggung jawab atas masa depan dan kebutuhan saudara mereka, layaknya orangtua.
Lalu, Andakah si pembayun itu? Atau bukan pembayun, tetapi berbagi masa depan dengan saudara, memikul tanggung jawab, tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk saudara dan orang tua? Jika iya, aku tetap salut pada Anda.
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "
About Me
- Denisa
- Perajut serpihan-serpihan aksara yang bergejolak dalam jiwa, bergolak, dan terserak dalam alam pikiran dan perasaan.