Bingkisan Idul Fitri yang Kuidamkan





/1/
Sore itu, matahari mulai meninggalkan singgasana. Pertanda senja segera tiba. Namun, pancaran cahayanya yang memukau masih menghiasi cakrawala. Entah mengapa, harmonisasi warna yang sungguh menakjubkan justru kian mengiris-ngiris batinku. Sisa-sisa sinarnya menghujam gumpalan awan sore yang terus berarak, layaknya pedang sang pendekar yang menancap jantung musuhnya.

Di tengah itu, burung-burung kecil saling berkejaran. Mungkinkah mereka sekelurga? Ah, betapa indah jika memang iya. Mereka menari lincah dan bernyanyi riang. Kulihat ada beberapa burung yang tertinggal dari gerombolannya. Bukannya dibiarkan, gerombolan itu justru menunggu burung-burung lain yang terbang lambat, jauh di belakang mereka. Sungguh membuatku iri. Kuamati lekat-lekat panorama yang memukau itu dari belakang jendela. Bibirku tersenyum, tapi perlahan-lahan hatiku gerimis. Pilu.

/2/
Tak kusadari titik-titik air menetes. Harusnya, aku berbahagia. Mestinya, aku bersemangat karena esok adalah hari kemenangan. Tapi, aku kerap seperti ini kala menjelang Idul Fitri: terdampar di ruang kecil yang sepi. Sendirian. Kuamati para tetangga dari balik bingkai jendela. Setiap orang bercengkerama dengan keluarga mereka masing-masing. Tertawa bahagia. Bersendau gurau. Atau sekadar jalan bersama ayah atau bundanya menyambut hari esok yang dinanti.

Kubalikkan tubuh. Seketika itu juga mataku menjelajahi setiap sudut kamar. Tak ada foto keluarga di kamarku. Hanya ada foto ayah dan aku. Itu pun 22 tahun silam saat aku berusia 5 th. Ayah memelukku hangat. Pandanganku terhenti pada sisi lemari. Ada sejumlah bingkisan menumpuk di sana. Memang, sejak tiga hari lalu satu demi satu parcel dari teman sejawat dan relasi berdatangan silih berganti. Ada yang besar juga ada yang kecil. Isinya pun beragam; mulai dari makanan, minuman, hingga parcel pecah belah.

Kuawasi satu per satu. Ternyata semua ada delapan, tapi belum satu pun bingkisan yang kusentuh. Melihat pengirimnya pun aku seperti enggan. Belum lagi kartu lebaran yang bertindih di meja kerjaku. Sejujurnya, bukan bingkisan itu yang kumau sejak berpuluh tahun silam.

Pandanganku kemudian mengarah pada sebuah meja yang bersebelahan dengan ranjang. Meja persegi panjang berwarna cokelat tua buatan kota ukir di Jawa Tengah. Aku tak pernah lupa. Meja itu adalah pemberian cuma-cuma dari sahabat ayah saat aku melakukan perjalanan ke Jepara lima tahun silam. Ukirannya yang unik dan –sepertinya rumit- juga kayu jati yang digunakan sebagai bahan dasar menandakan jika harga meja itu tidaklah murah.

“Bawalah, Ndo, meja ini untukmu. Ini tidak seberapa bila dibanding jasa ayahmu padaku dulu,” ujarnya lirih. “Anggap ini permohonan maafku karena belum sempat membalas kebaikan ayahmu, terlebih absen saat pemakamannya,” tuturnya sembari mengusap air mata yang tiba-tiba menitik.

Seketika itu juga, peristiwa tersebut seakan baru kemarin terjadi. “Ndo, jangan sungkan padaku. Anggap Pakde ini sebagai keluargamu. Datanglah ke mari kapan pun kamu mau. Pintu rumah Pakde terbuka untukmu, Ndo,” ucapnya sembari berkaca-kaca setelah bercerita panjang tentang hubungan yang terjalin erat antara dirinya dan ayah berpuluh-puluh tahun lalu. Pakde Joko adalah sahabat terdekat ayah. Banyak peristiwa yang mereka arungi bersama karena hampir separuh hidup ayah dilalui bersama beliau. Di usianya yang tak lagi muda, Pakde Joko masih giat bekerja. Mengurus mebel ukiran yang dibangunnya sejak 35 tahun lalu, bersama ayahku.

“Ibumu masih ada, tapi Pakde tak pernah tahu keberadaannya. Jangan pernah kau merasa hidup sebatang kara di dunia ini, Ndo. Sebelum kaumenemukan ibumu, ada Pakde yang menjadi keluargamu. Berkunjunglah ke mari. Kaumasih punya keluarga,” pintanya menguatkanku seakan tahu apa yang aku rasakan.

Namun, dua bulan yanglalu Pakde menyusul ayah. Tiba-tiba saja dadaku sesak. Air mata yang setadinya enggan keluar, kini tak terbendung. Isak tangis pun pecah di malam yang penuh gema takbir.

Ayahlah satu-satunya orang tua kandung yang merawatku sejak bercerai dengan ibu. Semenjak kecil, ayah merawat dan menghujaniku dengan penuh kasih sayang dan cinta, tak kurang sedikit pun. Hingga suatu hari, saat aku beranjak remaja, Ayah pergi selamanya, tanpa aku tahu di mana ibu kandungku berada. Aku pun tinggal dengan perempuan yang dinikahi ayah, itu pun hanya untuk beberapa tahun karena ibu keduaku pun menyusul ayah.

/4/
Masih di tempat yang sama: di balik jendela. Setelah sedikit puas menyisir seluruh ruangan, kubalikkan lagi tubuhku. Dengan wajah sembab, kubiarkan diri ini memandangi langit. Kini, matahari benar-benar telah tenggelam. Hari pun diselimuti gelap. Yang terdengar bukan lagi kicauan burung yang bernyanyi riang, melainkan gema takbir yang menggema di seluruh sudut kota. Menyayat dan mengaharu biru bagi sesiapa yang meresapinya.

Bertahun-tahun sudah aku mencari ibu, tapi tak pernah kutemui. Mengapa ibu tak pernah mencariku? Mengapa ibu tak peduli padaku? Atau mungkinkah ibu melupakanku? Ibu, tak tahu kah engkau jika anakmu ini rindu? Tak merasakah engkau jika darah dagingmu ini menderita karena cinta padamu? Tak mendengarkah engkau jika tiap malam aku menangis ingin dipeluk dan dicium olehmu? Sudah ribuan malam aku memimpikan menghabiskan hari raya bersamamu. Sudah milyaran jam aku mengidamkan dipeluk ibu, meski semenit.

Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah kudapatkan jawabannya sejak berpuluh tahun lalu, bahkan hingga kini. Dan, bingkisan yang selama ini kuidamkan tertuang dalam buku diaryku yang talah tertulis sejak puluhan tahun silam.

Aku hanya ingin ibuku, satu-satunya orangtua kandung yang kumiliki. Aku hanya mendambakan pelukan perempuan yang dulu mengandungku sebagai bingkisan terindah di hari yang fitri. Ciumannya, belaiannya, cumbunya, kasih sayang dan cintanya yang tak pernah kuterima sejak dulu. Aku haus akan semua itu.... Ibu, aku hampir terbunuh rindu. Selamat Idul Fitri, Bu...

Category: 0 komentar

Si Pambayun




Maksud hati ingin memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Sepertinya, peribahasa itulah yang sesuai untuk para pambayun di seluruh penjuru nusantara, tidak pandang yang berada di desa atau di kota. Para pambayun yang mau tak mau, mutlak untuk takluk pada pilihan hidup yang bersifat skala prioritas.

Dengan keterbatasan yang mengkungkungnya, dia harus mengugurkan impian yang sejak dulu menembus relung hatinya, tertancap dalam sanubarinya. Memilih satu dari dua pilihan yang baginya tidak mampu dilakukan, tetapi harus tetap dijatuhkan, mau tak mau. Suka atau tidak suka.

Di suatu sore yang indah, di pinggiran kota metropolitan, matahari mulai kembali ke peraduannya. Sinarnya yang masih memancar menambah kemegahan lukisan langit karya Maestro Terhebat.

Di ujung jalan, kulihat seorang bapak tertatih-tatih berjalan pulang sembari menggenggam beberapa karung beras di tangannya. Aku taksir usianya sekitar 55 tahun. Namun, tubuhnya terlihat tegap dan gagah. Di pundaknya masih tertumpu beberapa barang rongsokan yang diambilnya dari pinggir-pinggir jalan, atau mungkin dari tumpukan-tumpukan sampah di perumahan. Pakaiannya sangat sederhana, hanya kaus oblong berwarna coklat tua dan bercelana kain yang kurang lebih berwarna sama. Alas kakinya pun sendal jepit yang berlainan warna, bukan pasangannya. Dan ternyata, di pinggiran kota yang tak pernah mati itulah bapak tersebut tinggal bersama ketujuh putra dan seorang istrinya.

Kuperhatikan dia dari jauh. Ternyata, rumahnya bersebelahan dengan tempatku berdiam diri saat itu: di sebuah warung kecil milik Bu Mira. Tempat tinggalnya sangat mungil dan sederhana, sungguh sederhana karena hanya terbuat dari susunan triplek bekas dan tipis. Hanya satu ruangan dalam rumah itu. Seluruhnya bisa terlihat dari tempatku. Bisa kuartikan tempat itu tak layak untuk tinggal.

Namun sepertinya, mereka tak peduli. Senyum keluarga itu tak pernah sirna karena kemiskinan. Sebelum masuk, sang bapak tersenyum ramah padaku. Aku pun membalasnya dengan ramah pula.

Sembari menunggu temanku yang sedari tadi belum juga datang, kuperhatikan keluarga bapak tersebut dari tempatku berada, tentu saja dengan diam-diam.

“Bapak pulaaaang, Bapak pulaaaang,” sambut anak-anaknya riang setelah melihat bapak mereka memasuki rumah.

Ah, indahnya, gumamku dalam hati. Kejamnya hidup tak melunturkan tawa dan keriangan mereka. Namun, wajah bapak itu terlihat pucat. Kesedihan tersurat jelas di parasnya yang tampak menua. Mungkin, dia terlalu letih karena telah berjalan jauh. Tak diresponsnya sambutan anak-anak. Dia pun terkulai di atas sebuah kursi reyot di sudut ruangan. Tak lama kemudian, istrinya muncul menyuguhkan segelas teh yang diletakkan di sebuah meja di sudut rumah.

Belum juga menenggak teh buatan sang istri, bapak berbaju cokelat itu keluar dan duduk di pelataran rumahnya, di sebuah bangku hijau panjang, tepat sejajar denganku. Dia termangu. Sendirian. Anak-anaknya berhamburan keluar rumah. Masih bersorak-sorai memanggil-manggil bapak mereka. Aneh, sang bapak tetap membatu. Dengan penuh kelembutan, dimintanya semua anak masuk rumah.

Kemudian, sang bapak memanggil salah seorang putranya, Indra. Lalu, terdengarlah percakapan di antara mereka, “Ndra, mulai besok kamu bantu Bapak kerja ya. Mencari barang-barang bekas untuk kita jual,” ujar sang bapak.

“Tapi, Pak, besok ada pengambilan rapor di sekolah,” jawab Indra bersemangat, “Kata Bu Nani, wali kelas Indra, nilai UN Indra terbesar, Pak,” kisahnya bahagia. “Emm, begini saja,” usul Indra yang sepertinya tak ingin mengecewakan bapaknya, “Setelah Bapak ambil rapor, Indra janji bantu Bapak cari uang, ya? Indra mau bantu Bapak, meski harus sampai malam kok, gimana, Pak?” tawarnya.

“Ga bisa. Pokoknya, besok kamu harus ikut Bapak kerja!! Tak usahlah diambil rapormu itu,” bentak sang bapak tiba-tiba.

“Tapi, Pak...,” ujar Indra menimpali, “Bagaimana aku bisa melanjutkan sekolah jika raporku tidak diambil? Aku ingin masuk SMU unggulan, Pak. Kata Bu Nani, aku bisa masuk karena nilaiku sangat istimewa.”

“Tidak perlu kamu ambil rapormu,” hentak sang bapak untuk kali kedua. kali ini, wajahnya merah padam, “Kamu tidak dengar? Bapak kan sudah bilang, kamu tidak akan melanjutkan sekolahmu lagi. Titik!”

Kulihat Indra tertegun. Segurat kekecewaan mulai nampak di wajahnya yang menyimpan dalam-dalam hasrat melanjutkan sekolah.

“Aku ingin jadi insinyur, Pak,” ucap Indra lirih, “Aku ingin bangunkan rumah megah untuk Bapak Ibu dan adik-adik. Aku tak punya hati meihat Bapak setiap hari tidur di depan pintu rumah, dan Ibu kedinginan tiap malam.”

“Nah, itu. Jika kamu tidak tega dengan Bapakmu ini, kamu harusnya bantu Bapakmu ini cari duit. Jangan bisanya hanya menghabiskan duit!!” Kulihat Indra diseret masuk ke rumah. Dimarahinya dia habis-habisan. Meski tak terlihat olehku, tetapi suara mereka terdengar jelas hingga keluar.

“Tidak tahu diri. Masih untung kamu sekolah. Asal kamu tahu,” teriak bapak itu, “Bukan hanya kamu saja yang ingin sekolah! Kamu juga harus memikirkan nasib adik-adikmu. Kebutuhan kita yang lain, kayak, makan, bayar listrik, beli susu untuk adikmu Wina, sekolah Rizal, Bima, Irma. Kalau kamu sekolah sampai jadi insinyur, sampai tinggi, adik-adikmu tidak akan bisa sekolah!! Harusnya, sebagai anak pertama, kamu itu ngerti kesusahan orangtua??!! Memang kamu kira penghasilan Bapakmu ini banyak apa, hah?! Banguuuuun, jangan mimpi terlalu tinggi, kamu!!”

Sayang, aku tak bisa melihat kelanjutan percakapan mereka. Temanku sudah datang menjemput. Itu artinya aku harus segera pergi. Sungguh, tidak sedikit para pembayun yang bernasib demikian. Dia dibelenggu oleh kebutuhan yang sepertinya tidak pernah berhenti dan senantiasa datang silih berganti. Secara tak langsung, dia dipasung oleh tanggung jawab yang wajib ditunaikannya; ‘dipaksa’ berbagi kehidupan dengan saudara-saudara kandungnya yang lain, lalu mau tak mau membuang hasrat yang telah lama terpatri dalam lubuk hatinya. Dalam hal ini, bukan hanya berbagi makanan, minuman, tempat tidur, atau ruang untuk melindungi diri dari panas dan dingin, gelap dan terang, melainkan berbagi masa depan.


Indra adalah secuil pembayun yang berusia muda yang dituntut untuk mengerti sesuatu yang belum waktunya untuk dimengerti. Jangankan menghidupi adik-adik dan orangtuanya, untuk dirinya sendiri pun terkadang dia dilanda kebingungan. Tidak tahu harus berbuat apa.


Tak jarang, aku angkat topi untuk para sulung yang berhasil menapaki tajamnya hidup dengan keringatnya sendiri. Tanpa uluran tangan saudara atau mengemis belas kasih dari orang lain. Berpayah-payah dan memeras keringat demi menafkahi keluarga, lalu mengambil alih tugas ayah bunda yang renta atau bahkan telah tiada. Terlebih, jika si sulung itu seorang wanita dan beradik tidak lebih dari tiga.


Karenanya, tidak salah jika tidak sedikit para pembayun yang berkarakter keras, bertanggung jawab, dan dewasa. Hiduplah yang mendidik mereka menjadi orang-orang yang tangguh dan kuat. Kesulitanlah yang membentuk mereka menjadi orang hebat dan dahsyat. Tak cepat putus asa dan menyerah, meski mereka kerap kalah. Merekalah orangtua kedua bagi adik-adik mereka, setelah orangtua dalam arti sesungguhnya: ibu bapak. Tak bisa dimungkiri, seringkali mereka bertanggung jawab atas masa depan dan kebutuhan saudara mereka, layaknya orangtua.


Lalu, Andakah si pembayun itu? Atau bukan pembayun, tetapi berbagi masa depan dengan saudara, memikul tanggung jawab, tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk saudara dan orang tua? Jika iya, aku tetap salut pada Anda.

Category: 5 komentar

Luka yang Terkoyak




Rasanya, sempit sekali dunia ini. Tak pernah kuberharap melihat parasmu yang menjengkelkan. Mendengar namamu disebut saja, ingin rasanya aku mengeluarkan isi perutku. Muak. Berlebihankah aku? Mungkin. Tetapi, itulah yang kurasakan. Demikianlah adanya. Hanya satu kata yang kautinggalkan di hatiku: benci. Setelah malam itu, yang kuinginkan adalah menghapus nama dan semua tentangmu dari hidupku.

Berkali-kali kaulukai aku, tapi aku tetap bertahan. Berulang kali kaubohongi aku, namun aku tetap memaafkan. Dengan susah payah aku membuang jauh semua kepingan tentangmu. Tak kusisakan sedikit pun, meski faktanya aku kalah. Dengan kegetiran dan air mata, kuhempaskan semua kenangan serta sejuta ikrar palsumu. Butiran-butiran putih dari mata ini terus deras mengucur. Butiran yang seharusnya tak layak mengalir untuk lelaki sepertimu. Kata maaf yang kauungkapkan berjuta kali pun tak akan pernah menghapus sayatan di hatiku. Bahkan, tahun yang bergulir pun tak sanggup membalut keperihan yang kurasakan. Dan yang tertinggal kini, hanyalah kepiluan yang takkan pernah tersembuhkan. Kebencian yang sepertinya tak pernah berkesudahan.

Mungkin kaulupa, tapi tidak denganku. Mungkin kauanggap semua yang tlah terjadi tak berbekas apa pun di hatimu. Goresan sakit ini akan masih menjejak di lubuk hati, juga di otakku. Selamanya... Pernah terbetik di pikiranku bahwa apakah aku dicipatakan hanya untuk dilukai, disia-siakan, dan dicampakkan?

Dengan satu menit kaululuhlantakkan indahnya mimpi yang telah kita rajut ribuan malam. Dengan satu menit kaumusnahkan kepercayaan yang dengan tulus kuberikan. Dengan satu menit, kaututup rangkaian cerita manis yang telah kita untai bersama. Dengan satu menit, kauhapuskan semua perjuangan dan pengorbanan kita yang telah bersusah hati meraih restu ayah bunda.

Siang itu di suatu tempat, Tuhan memperhadapkan kita kembali.

“Ka, apa kabar?” sapamu menegurku.

Saat itu, aku hanya membatu. Tubuhku lemas seketika melihat wajah yang merobek-robek hatiku ada di hadapan. Aku tak percaya.

“Ka, kok bengong?”

“Kok, kamu di sini?” tanyaku heran.

“Hey, pertanyaanku belum kamu jawab,” kilahnya sembari tersenyum, “Apa kabar? Lama ya kita ga ketemu. Smsku ga pernah kamu balas. Teleponku juga ga pernah lagi kamu angkat.”

“Oh, aku baik.”

“Syukurlah kalau baik. Kamu ga berubah ya, Ka. Tetap cantik,” ujarnya sembari terus tersenyum.

Belum lagi aku mendapat alasan dia berada di tempat itu, aku segera berpaling dan pergi.

“Aku duluan.”

“Ka... Ka...,” teriaknya, “Ka, tunggu, Ka. Kamu kenapa?”
Tiba-tiba, dia sudah ada di depanku. Menghalangi jalanku. Lalu, terus mendesakku untuk sudi berbincag dengannya.

“Ka....”

“Maaf, aku harus segera pergi.”

“Iya, tapi..”

“Maaf, aku harus pergi. Tolong jangan halangi aku.”

Aku pun mempercepat langkahku dan meninggalkannya yang terus memanggil namaku. Sungguh, pertemuanku ini sangat menghujam relung-relung hatiku. Mengupas luka-luka lama yang telah susah payah kusembuhkan. Mengoyak serpihan hatiku yang kini tak lagi berbentuk.

“Lukaa...."

"Lukaa... Aku hanya ingin katakan sesuatu padamu... Aku minta maaaf... Aku menyesaal... Aku menyesal telah mengecewakanmu...”

Kau terus berteriak dan berteriak. Tak peduli pada keramaian dan orang-orang di sekitar yang terheran-heran memandangmu. Namun, satu hal yang harus kautahu. Sekarang, aku bukanlah Luka yang dulu. Luka yang dengan mudah kaulukai sesuka hatimu. Luka yang bisa kaucampakkan saat kau tidak butuh, dan Luka yang dengan sekejap bisa kaurengkuh jika kaubutuh karena cintanya yang begitu mendalam.

Category: 1 komentar

Senandung Lara


Perih duniaku
Tak ada irama bahagia yang terputar
Bibir ini merekah, tapi tidak hatiku
Paras ini bersuka cita, namun lain di batinku
Sunyi di tengah hingar bingar
Lengang di antara keramaian
Terperangkap selama ribuan malam

Tahukah engkau?
Gegap gempita dunia yang membahana
Berlalu begitu saja
Tak bertapak
Tak meninggalkan jejak
Hanya menghias kesemuan belaka

Satu kata yang setia
Mendampingiku sepanjang masa
LARA

Category: 0 komentar

Terngiang-Ngiang


Sejak kepergian sang Raja Pop, Michael Jackson, yang serba mendadak dan misterius, entah kenapa semua tentang dia yang kuketahui selalu memenuhi benakku. Tak ingin tertinggal satu pun berita baru yang bisa kudapatkan. Sejujurnya, aku bukanlah penggemar setianya. Penggemar yang selalu mengikuti perjalanan karirnya, juga kehidupan pribadinya, dari awal hingga akhir, atau apa pun itu.

Aku hanyalah aku yang tidak terlalu mengidolakan siapa pun. Tetapi, sejak mengetahui tragisnya kepergian sang Raja yang sangat menyedihkan, sungguh membuatku pilu. Aku
merasa kehilangan. Sedih, dan kadang gemetar. Entah mengapa, aku juga tidak tahu... Hari demi hari terus bergulir. Lima hari sudah Jacko pergi. Dan, aku semakin tak bisa untuk tidak mendengarkan sekali pun lagu-lagunya.

Kini, satu per satu lagunya terngiang lagi di hati, di pikiran, dan di seluruh waktuku... Suaranya, liriknya, musiknya, menyayat hati... Membuatku terdiam sejenak dari pekerjaanku. Selamat jalan Jacko, dunia kehilangan dirimu... Jerit tangis dunia dan ribuan bunga mengiringi kepergianmu...



Heal The World

There's a place in your heart, and I know that it is love
And this place could be much brighter than tomorrow
And if you really try, you'll find there's no need to cry
In this place you'll feel, there's no hurt or sorrow

There are ways to get there
If you care enough for the living
Make a little space, make a better place

Heal the world make it a better place
For you and for me and the entire human race
There are people dying if you care enough for the living
Make a better place for you and for me

If you want to know why, there's a love that cannot lie
Love is strong, it only cares for joyful giving if we try
We shall see in this bliss, we cannot feel fear or dread
We stop existing and start living
Then it feels that always love's enough for us growing
So make a better world, make a better world

And the dream we were conceived In will reveal a joyful face
And the world we once believed in will shine again in grace
Then why do we keep strangling life wound this earth crucify
Its soul though it's plain to see this world is heavenly be God's glow

We could fly so high let our spirits never die in my heart
I feel you are all my brothers create a world with no fear
Together we'll cry happy tears see the nations turn
Their swords into plowshares

We could really get there if you cared enough for the living
Make a little space, to make a better place

Category: 1 komentar

5 Tips Melamar Kerja


Duuuh, lagi mampet niiiih idenya, jadi aku masukin aj tips ini buat para pembaca. semoga bermanfaat yaaa...

Agar bisa diperhitungkan di tempat Anda melamar pekerjaan, Anda harus bisa memberikan sesuatu yang lebih. Tak hanya daftar riwayat hidup yang mengagumkan, tetapi juga harus bisa memberikan impresi yang positif saat wawancara kerja. Berikut adalah pesan tersirat yang bisa Anda sampaikan bahkan sebelum wawancara kerja, untuk menciptakan kesan bahwa Anda adalah calon karyawan yang patut dipekerjakan.

1. “Saya profesional”
Para pelamar kerja yang mengikuti proses aplikasi secara serius akan ditangani secara serupa oleh si pemberi kerja. Semisal, bacalah kembali materi surat lamaran Anda untuk kesalahan ketik atau kesalahan penulisan. Tak ada salahnya jika Anda minta tolong orang yang Anda percaya untuk membaca ulang surat lamaran dan CV Anda, sebagai tindakan pencegahan jika terjadi kesalahan penulisan. Juga, berhati-hatilah dengan penggunaan bahasa. Hindari penggunaan kata-kata informal, atau bahasa asing bila hal tersebut tak terlalu penting.

2. “Saya orang yang harus mencapai target”
Departemen HRD selalu dibanjiri lamaran pekerjaan dari sana-sini. Bisa jadi lamaran pekerjaan Anda hanya dilihat sekilas. Untuk menghadapi masalah tersebut, sebaiknya Anda mencoba ambil inisiatif. Semisal, jika Anda mengirimkan lamaran pekerjaan tanpa ada iklan atau apa pun, cantumkan kalimat penutup, seperti, “Saya menunggu tanggapan dari Bapak/Ibu.” Atau, untuk lebih proaktif, cantumkan, “Jika tidak mengganggu, saya akan menghubungi Bapak/Ibu pada hari Selasa, pukul 15.00, untuk mendiskusikan kemungkinan saya di posisi yang saya lamar.”
Anda juga bisa mencoba untuk menghubungi si manager personalia perihal lamaran Anda. Namun, jangan lakukan hal ini jika di media yang mengiklankan lowongan tersebut tercantum bahwa Anda tak diperbolehkan menghubungi mereka. Dengan menghubungi tempat kerja tersebut dalam jangka waktu 2 minggu pengiriman, Anda bisa memastikan apakah sebaiknya Anda menunggu atau mencoba yang lain.

3. “Saya adalah ahlinya”
Perusahaan di mana pun pastinya akan lebih senang jika mereka bisa mempekerjakan seseorang yang memiliki keahlian tinggi. Anda bisa juga mencantumkan berbagai keahlian dan sertifikat yang Anda miliki, dan berkaitan dengan pekerjaan yang Anda incar tadi. Jangan lupa, jika Anda juga tergabung dengan asosiasi tertentu, cantumkanlah. Hal ini bisa membuat Anda bernilai tambah karena memiliki koneksi ke institusi tersebut, jika sewaktu-waktu diperlukan.

4. “Saya bisa mengurangi pengeluaran”
Di masa ekonomi seperti sekarang ini, banyak perusahaan yang mencari ragam cara untuk mengurangi pengeluaran. Jika Anda pernah memiliki kesuksesan memotong pengeluaran di perusahaan sebelumnya, terangkanlah cara Anda melakukannya di CV. Misalkan, ketika Anda melamar pekerjaan sebagai asisten administrasi. Anda bisa mencantumkan bahwa di perusahaan sebelumnya Anda pernah menegosiasikan ulang kontrak dengan pemasok alat-alat kantor, yang berakibat pada penghematan kantor tanpa perlu mengurangi kualitas dan kuantitas.

5. “Saya mampu memberikan apa yang dibutuhkan perusahaan”
Untuk menunjukkan bahwa Anda adalah karyawan terbaik, pastikan bahwa lamaran Anda ditargetkan untuk posisi yang spesifik. Gunakan kata-kata yang sekiranya tepat untuk posisi yang dilamar. Buat kata-kata seakurat mungkin yang mendeskripsikan pengalaman dan kualifikasi Anda. Kebanyakan perusahaan menggunakan program peranti lunak yang memindai kata-kata spesifik untuk kata-kata yang tepat dan spesifik yang berhubungan dengan posisi tertentu. Jadi, meskipun Anda cukup qualified untuk posisi tertentu, namun jika tidak menggunakan terminologi yang dicari, maka lamaran pekerjaan Anda mungkin tak akan dilihat.

Mengirimkan "pesan" tersirat kepada perusahaan yang Anda incar tak berarti menggaransikan bahwa Anda akan mendapatkan pekerjaannya. Namun, bisa meningkatkan peluang dipanggil untuk wawancara kerja. Nah, dari sana, Anda bisa memberikan kesan terbaik Anda. [www.kompas.com]

Category: 0 komentar

RANDI: Sang Pemecah Karang


Setelah jam kerja usai dan memastikan semua berkas, file, dan tumpukan buku-buku tebal yang berjejal di meja kerja tersusun dan tertata rapi, aku langsung bertolak meninggalkan kantor. Tak lupa, ku-turn off komputerku. Sejenak, kutatap langit sore itu. Ahh, cerah.

Kuayunkan langkah sembari senyum simpul ke beberapa ibu-ibu yang tengah asyik berbincang di pinggir jalan yang kebetulan melempar senyum pula padaku. Untunglah, bus yang mengantarku pulang tak harus kutunggu lama. Segera kunaiki metromini jurusan Duren Sawit-Cililitan. Tancaaap!!! Bus kecil ini pun melaju kencang. Menderu-deru di sepanjang jalan. Menukik tajam dan berulang kali menyalip kendaraan-kendaraan yang berpostur lebih kecil. “Hajaaar!!!!” seru sang sopir sembari terbahak-bahak. Edan, batinku kesal.

Di lampu merah UKI, aku turun. Kulangkahkan lagi kaki ini untuk melanjutkan perjalanan pulang dengan menyambung bus lain. Sambil menunggu, kulempar pandangan ke sekeliling. Ramai. Tatapanku tertahan pada seorang bocah kecil yang tengah duduk di pematang jalan. Tangannya menggenggam plastik. Dikeluarkannya isi plastik itu. Dan tenyata: uang receh. Logam demi logam dipindahkan dari tangan kanan ke tangan kirinya. Berhenti sejenak. Wajahnya muram. Tak lama kemudian, diraihnya gitar yang sedari tadi diletakkan di sisinya. Sambil menganguk-anggukan kepala dia terus bersenandung. Kali ini tersenyum, dan acapkali kakinya turut bergoyang mengikuti dawai-dawai gitar yang mengalun. Hingar bingar kendaraan dan hiruk pikuk pejalan menyamarkan suranya yang bahkan nyaris tak terdengar olehku.

Bus yang kutunggu sedari tadi pun belum juga menampakkan batang hidungnya. Padahal, langit kian gelap. Gemuruh petir mulai bersahut-sahutan pertanda hujan akan tumpah. Kuperhatikan bocah itu dari samping. Dia masih seperti yang kugambarkan: bernyanyi gembira. Tak tersurat di wajahnya rona kesedihan lagi. Sama sekali! Padahal, rambutnya tak teratur. Kakinya tak beralas. Kulitnya coklat kehitam-hitaman. Pasti karena terbakar panasnya matahari. Pakaiannya lusuh dan kotor. Tetapi sepertinya dia tidak peduli dengan semua itu!!

Tubuhnya yang kecil dan kurus dengan mantap mendekap gitar kecil yang usang di dadanya. Tangan kanan dan kirinya memeluk erat alat musik bersenar itu. Jemarinya dengan lincah menari di atas senar-senar gitar berwarna cokelat tua. Terciptalah harmonisasi irama nan syahdu. Diiringi komat kamit mulutnya yang berdendang riang. Bahagia.

Baru saja ingin kuhampiri, tiba-tiba langit menangis. Seketika itu juga aku berlindung di pedagang kaki lima yang lokasinya tak jauh dari tempatku berdiri. Kulihat anak itu masih berada di tempatnya. Hujan-hujanan.

“Namanya Randi, Mba,” ujar Pak Sardi, pedagang mie tempatku berteduh.
“Ya, Pak, maaf?”
“Itu lho Mba, bocah yang dari tadi Mba lihat itu.”
“Ooooh, Randi, ya,” ujarku menanggapi ucapannya sembari senyum. Rupanya, Pak Sardi tahu jika aku memerhatikan bocah itu sedari tadi.

“Kasihan, Mba. Masih kecil sudah harus berpayah-payah mencari sesuap nasi. Dari pagi sampai pagi lagi. Dari malam sampai malam lagi. Kalau tidak begitu, dia tidak makan. Padahal, umurnya baru sebelas tahun.”

“Kerja apa, Pak anak sekecil itu?”

“Menjual suara, Mba. Kadang, sehari cuma dapat lima ribu. Itu pun jika dia mulai ngamen dari pagi hingga pagi. Kalau kurang, ya dia jualan koran. Bahkan kadang, uangnya diminta preman-preman sini, Mba. Belum lagi jika harus dibentak dan ditendang trantib atau penumpang, dia bisa tidak dapat uang,” kisah lelaki tua itu.

“Ga dapat uang?? Trus makannya??”

“Ya, ga makan, Mba. Itu mah biasa untuk orang-orang seperti Randi. Sehari makan, sehari nggak. Kadang, ya saya kasih dia makan, tapi sering ditolak. Malu katanya tiap hari minta.”

Aku terdiam sesaat. Lidahku kelu. Anak itu sudah tahu artinya malu karena sering meminta.

“Trus, tinggalnya di mana, Pak?”

“Di mana-mana, Mba. Ga pasti. Beratap langit dan berlantai tanah.”

Lagi-lagi, aku terdiam sembari terus memandang anak kecil yang masih bersenandung gembira.

“Orang tuanya Pak? Kok bisa, anak seusia Randi dibiarkan bekerja seperti itu?”

“Ga ada yang tahu, Mba. Sejak bayi, dia dititipkan ke Pakde Nano. Pakde NaNo itu baik sekali, Mba. Dialah yang merawat Randi dari bayi. Kebetulan, rumah Pakde, biasa kita memanggilnya, dekat dengan rumah saya. Mulanya, si Randi itu tinggal di rumah Pakde, tetapi sejak dia meninggal, keluarganya mengusir Randi, Mba. Nyusahin aj, kata mereka.”

“Diusir, Pak? Tega banget!!”

“Iya, Mba. Pakde itu orang kaya raya, Mba. Tetapi meski kaya, dia nggak sombong dan nggak pelit sama kita-kita,” tutur Pak Sardi bergairah sembari tangannya menyajikan mie ayam untuk pembeli, ”Tidak jarang, dia ngasih santunan ke anak-anak yatim dan orang-orang tidak mampu. Beda dengan anak-anaknya, Mba, beda banget. Nah, pengusiran itu setelah Pakde meninggal karena sakit jantung, Mba. Anak-anaknya sibuk dengan diri mereka sendiri. Padahal waktu itu, umurnya baru delapan tahun,” lanjut laki-laki yang berperawakan gagah itu.

Langit masih terus menangis. Tangisnya kini bahkan lebih deras dari sebelumnya. Persis seperti hatiku saat mendengar cerita Pak Sardi tentang Randi. Malang sekali nasib bocah itu.

“Sekolahnya, Pak?”
“Yaaah, Mba lagi, Mbaa, buat makan aja susah, apalagi sekolah, ga kepikiran.”

Kulihat Randi masih duduk di trotoar sembari bernyanyi. Kali ini dia tidak ditemani gitar kesayangannya. Dia terus bersenandung dengan memukul-mukul kedua telapak tangannya ke paha. Tersenyum dan terus tersenyum.

“Dulu, dia pernah sekolah, itu pun SD, tapi nggak tamat karena Pakde keburu meninggal dan Randi keburu diusir. Tapi, Mba, Randi itu anak yang tidak pernah mau menyerah, lho. Dia berani melawan kerasnya hidup. Tak mau bergantung sama orang lain. Asal Mba tahu, dia tidak pernah mengeluh dengan kondisinya. Padahal, saya saja ya Mba yang sudah tua begini, kadang kerjaannya ngeluh dan ngeluh, Mba,” ujarnya sambil tertawa kecil. Mungkin karena malu dengan bocah tangguh itu.

“Satu lagi, Mba,” tutur Pak Sardi semangat, “Mba lihatkan gitar yang dipeluknya itu?” tanyanya sambil mengarahkan pandangan ke arah gitar Randi.

“Iya.”

“Gitar itu satu-satunya benda yang sangat disayanginya. Hanya dengan benda itu dia bisa menyambung hidup. Meski lusuh, gitar itu dari keringatnya sendiri, Mba. Dulu, gitar pertama pemberian Pakde dibanting hingga hancur oleh preman-preman di daerah sini. Ga ada yang berani menolong dia. Masalahnya klasik, Mba, tidak bisa setor. Dia amat terpukul dengan peristiwa itu, tapi langsung bangkit.”

Setor?? Aku masih terpaku mendengar cerita yang dituturkan Pak Sardi tentang bocah itu. Betapa hebatnya dia. Betapa kuatnya anak kecil yang masih belasan tahun dalam menghadapi kejamnya dunia yang semakin tak berpihak padanya. Hingga akhir cerita, pandanganku terus tertuju pada bocah tangguh itu. Memilukan. Ironis sekali dengan para pejabat tinggi negara yang berlomba-lomba mengoleksi mobil antik dan mewah. Juga mereka yang tega memakan uang rakyat demi kepentingan pribadi.

Ternyata, sebegitu beratnya peran yang harus dilakoni seorang anak berumur sebelas tahun itu, lebih berat dari peranku. Meski hidup ini keras dan ganas, dia tetap tegar. Sekuat tenaga memecah karang yang tegak dan congkak. Segenap jiwa menatap tajam ketimpangan yang membabi buta. Dalam masalah hidup, bisa jadi dia lebih mahir dariku. Tak dapat dipungkiri, banyak Randi Randi lain di sekelilingku, mungkin juga Anda. Yang dipaksa bergeliat dengan kesusahan dan kemiskinan.

Malam kian larut, meski hujan juga tak kunjung reda. Berat rasanya aku meninggalkan bocah itu. Sebatang kara dia hidup. Namun, apa daya, aku tak kuasa apa-apa. Aku pun pamit kepada Pak Sardi dan tak lupa mengucapkan banyak terima kasih karena telah berbagi pengalaman bocah itu denganku. Sebelum menyeruak ke jejalan penumpang bus, kuhampiri Randi. Lantas, kuberi dia apa yang bisa kuberikan sembari tersenyum dan berbisik, “Kamu hebat, Ran!!!”


Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang
Lemah jarimu terkepal
[Iwan Fals, Sore Tugu Pancoran]

Category: 1 komentar
Diberdayakan oleh Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

About Me

Foto saya
Perajut serpihan-serpihan aksara yang bergejolak dalam jiwa, bergolak, dan terserak dalam alam pikiran dan perasaan.