Menjemput Keberuntungan lewat Doa Ibu





Judul Buku : Sukses berkat doa Ibu
Penulis : Aang Abdul Qahar - Dewi Kournia Sari
Penerbit : Idealmahira (lini Almahira)
Jmlh hlm : 184
Harga : Rp. 45.000,-

Siapa pun tahu bahwa meraih kesuksesan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Harus ada elemen-elemen pendukung demi mewujudkan harapan yang diinginkan. Sungguh, kesuksesan bukanlah kerja semalam. Ia adalah buah ikhtiar. Seorang Jenderal Purnawirawan Amerika, Collin Powell mengatakan “Sukses adalah hasil kesempurnaan, kerja keras, belajar dari kegagalan, kesetiaan, dan ketekunan.” Saya sepakat. Saya juga yakin bahwa banyak orang telah membuktikan hal tersebut dalam kehidupan mereka. Tapi, apakah hanya itu?

Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian kita mengalami hal sebaliknya: kegagalan dan keterpurukan. Usaha yang dillakukan tidak kalah keras dengan mereka yang meraih kesuksesan. Pengorbanan pun tidak pernah berhenti diberikan. Namun, kegagalan demi kegagalan kerap datang silih berganti hingga berujung pada keputusasaan. Jika sudah demikian, tidak jarang kita menjadikan Allah swt sebagai “sasaran” kekecewaan. Kita sering beranggapan bahwa kegagalan adalah takdir Tuhan. Lalu memvonis bahwa kesengsaraan yang kita alami adalah kehendak-Nya. Tanpa disadari, kita telah menentukan takdir kita sendiri yang kita klaim sebagai takdir Allah swt.
Lantas, bagaimana???

Tahukah Anda, Allah swt tidak begitu saja “menceburkan” hamba-Nya ke dalam kubangan derita. Membiarkan kita sengsara tanpa memberikan “senjata" untuk keluar dari problema hidup yang ada. Satu hal yang terkadang kita lupakan bahwa kesuksesan adalah sebuah keberuntungan! Dan di dalam keberuntungan ada doa ibu.

Berhentilah sejenak dari rutinitas. Selagi beliau masih bersama kita, sisakan saja sedikit waktu untuk memandang dan memperhatikan wajahnya. Sebentar saja. Lihatlah, betapa banyak perubahan fisik yang dialaminya; rambutnya, kulitnya, dan kekuatannya. Resapilah, betapa banyak pengorbanan yang telah dilaluinya hanya untuk menjadikan kita, sambungan jiwanya menjadi orang yang bisa membuatnya tenang saat ajal tiba. Pandailah ia lekat-lekat. Tanyalah hati kita: sudah berapa banyak kebahagiaan yang kita berikan untuknya? Berapa banyak kebahagiaannya yang “terampas” demi kita, jantung hatinya. Namun, hingga kondisi demikian, adakah semua itu mengurangi cintanya pada kita?

Jika hidup kita tak kunjung bahagia, adakah lisan kita pernah menyakitinya? Andai kata hidup kita tak pernah lepas dari marabahaya, adakah sikap kita yang selalu membuatnya kecewa? Bila mana hidup kita senantiasa dinaungi kesukaran, mungkinkah kita tak pernah meminta restunya?

Banyak hal yang akan Anda temukan dalam buku ini, selain keutaman seorang ibu. Perjuangannya demi anak-anak yang sangat dicintainya pun akan menemani Anda menyusuri lembar demi lembar buku ini. Juga alasan mengapa harus doa ibu yang –bisa dikatakan—memiliki andil cukup besar dalam kehidupan anak-anaknya kelak. Singkaplah secepatnya kabut hitam yang selama ini menyelimuti hidup Anda. Jemputlah segera keberuntungan Anda lewat restu dan doanya.

Category:

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

About Me

Foto Saya
Perajut serpihan-serpihan aksara yang bergejolak dalam jiwa, bergolak, dan terserak dalam alam pikiran dan perasaan.